Ada saja orang-orang ringkih yang melihat carut-marut kondisi umat Islam sebagai kesalahan adanya madzhab dalam ilmu fiqih. Mereka melempar kesalahan itu kepada para ulama besar pendiri madzhab fiqih itu. Lalu dengan gagah mengatakan bahwa madzhab dirinya adalah “tidak bermadzhab”.

 

Padahal ilmunya tidak ada seujung kuku Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab yang para ulama sesudahnya merasa berhutang pengetahuan kepadanya. Ia ulama mandiri, dalam ijtihad maupun dalam soal sumber pendapatan. Mengongkosi kebutuhan salah satu muridnya, Abu Yusuf sekaligus keluarganya, selama dua puluh tahun. Tapi ketika Abu Yusuf mengatakan kepada Abu Hanifah, “Aku belum menemukan orang yang lebih dermawan daripada engkou,” Abu Hanifah menjawab, “Bagaimana kalau engkau mengenal guruku (Hamad bin Abi Sulaiman) ? Aku tidak mendapati orang yang berkumpul dalam dirinya bermacam kebaikan seperti dia.”

Orang-orang angkuh itu mengatakan, bahkan di mimbar masjid saat ia punya sedikit kesempatan untuk berkhotbah, bahwa madzhab itu memecah belah ummat Islam. Padahal ia sendiri tidak melakukan apa pun untuk mempersatukan ummat IslamPadahal ilmunya tidak ada seujung kuku ilmu Imam Malik. Yang disebut sebagai Imam-nya kota Madinah, Imam Negeri Hijrah. Yang selalu bersuci sebelum mengajarkan hadits.

Padahal ilmunya tidak ada seujung kuku ilmu Imam Syafi’i. Yang hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun, lalu menghafal hadits dan tafsir di usia tiga belas tahun. Ia berguru pada banyak sekali ulama. Yang sekitar sepuluh sampai tujuh belas tahun mendalami bahasa Arab fasih dari kabilah Hudzail, kabilah paling fasih dalam bahasa Arab.

Padahal ilmunya tidak ada seujung kuku Imam Ahmad, yang menurut Abu Zur’ah, hafal satu juta hadits. Yang karena ketakwaannya membuat jin yang mengganggu soerang perempuan takut kepada terompah Imam Ahmad dan kabur meninggalkan perempuan itu.

Seperti mereka yang antipati dengan dunia kekuasaan, karena melihat jalan menuju ke sana adalah belantara politik yang penuh kotoran. Tidak berminat dengan kekuasaan dalam arti tidak mau berpartispasi, tidak sama dengan menolak kekuasaan sebagai bagian dari ajaran agama. Islam tidak memisahkan antara kekuasaaan dan kehidupan sipil. Sebagaimana Islam tidak memisahkan antara pentingnya masjid dan pentingnya pasar. Masing-masing saling melengkapi. Tetapi di sini juga ada godaan pemanis keangkuhan. Netralitas adalah godaan keangkuhan. Ia bisa menjadi pemanis. Tapi menipu.

Orang-orang lemah datang menyelesaikan masalah dengan me-negasi dan menolak segala hal. Meski itu hanya dengan bicara dan berkata-kata. Maka masalah tak pernah selesai.

Orang kuat datang menyelesaikan masalah pertama kali dengan sikap tahu diri akan dirinya sendiri. Lalu merangkai dan menjahit dengan penuhkesabaran apa-apa yang sudah ada. Termasuk menghormati dan menghargai jasa orang lain yang juga punya kontribusi.

Disalin dari artikel “Pemanis-Pemanis Keangkuhan”, dari majalah Tarbawi Edisi 195 Th.10 Shafar 1430H, 22 Januari 2009
Tema utama edisi tsb adalah : “Orang-orang yang Mempermanis Keangkuhan”.

————

Pesan dari saya (e0d0i):
1. Semoga kita tidak termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang tidak pernah berusaha menyelesaikan masalah, tapi malah sibuk dengan omongan.
2. Mari kita hormati para pejuang yang sedang memperjuangkan ummat Islam di-manapun mereka berada, baik mereka guru, hakim, polisi, karyawan anggota DPR, ataupun lainnya.
3. Contoh mudah “orang-orang kuat” adalah para pejuang perbankan syariah di negeri ini. Mereka rela berbaur dengan debu-debu realita pada awalnya, untuk  kemudian berhasil memberikan solusi yang lebih baik kepada ummat ini. Maka, kalau kita memang tidak punya solusi, memang tidak punya kontribusi atau memang tidak pernah punya keinginan untuk mau mencarikan solusi atau mau memberikan kontribusi, minimal sekali, marilah kita belajar untuk menghormati orang lain yang berusaha mencari solusi dan berusaha memberikan kontribusi.

Ulama berbeda pendapat mengenai arti bid’ah. Ada yang memaknai semuanya sesat, ada pula yang menganggap terbagi dua antara yang baik (hasanah) dan yang buruk (sayyi-ah/dholalah).

Berikut ini adalah praktek bid’ah hasanah dari zaman salaf hingga khalaf. Sebagiaannya diperdebatkan oleh para pendukung “semua bid’ah adalah sesat”. Dalam hal ini kita kembalikan pada perkataan al-Imam Malik di hadapan kubur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “setiap orang bisa diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali pemilik kubur ini”

Saya awali dengan sedikit membahas hadis “kullu bid’atin dholalah” (segala bid’ah adalah sesat).

Kata “kullu” tidak selalu mencakup seluruh. Ini terbukti di dalam al-Quran

وجعلنا من الماء كل شىء حي

“Dan telah Kami (Allah) ciptakan segala (kullu) sesuatu yang hidup dari air yang hidup” (Q.S. al Anbiya’: 30)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

كل شىء خلق من الماء (رواه ابن حبان

Maknanya: “Segala (kullu) sesuatu diciptakan dari air” (H.R. Ibn Hibban)

Telah jelas bagi kita bahwa malaikat diciptakan dari cahaya, syaitan diciptakan dari api, serta fakta-fakta lain, yg merupakan pengecualian dari “kullu” yang disebutkan dalil-dalil di atas.

Hal ini juga dibuktikan dalam ayat yang lain
وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas seluruh (kullu) kapal (al-Kahfi : 79)

Jelas disebutkan di ayat yang sama bahwa Khidr merusak kapal seorang miskin agar tidak diambil sang Raja (cek juga ayat 71). Dari sini dapat disimpulkan walaupun al-Quran menyebut bahwa si Raja merampas seluruh (kullu) kapal, tapi kapal yang rusak tidak dirampasnya.

Berikut ini adalah praktek bid’ah hasanah dari masa ke masa:

1. Pembukuan al-Quran di zaman khalifah Abdullah bin Utsman Abu Bakr ash-Shiddiq
“Sungguh Umar telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlul yamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlul-qur’an. Lalu ia menyarankan agar aku (Abu Bakar Asshiddiq) mengumpulkan dan menulis Al Qur’an. Aku berkata, “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” Maka Umar berkata padaku, “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan”. Ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar. Engkau (Zayd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Al Qur’an dan tulislah Al Qur’an!”

Zayd menjawab:

Demi Allah, sungguh bagiku diperintah (untuk) memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung (yang ada), tidaklah seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Al Qur’an.Bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?”

Maka Abu Bakar mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Al Qur’an”.

2.  Umar bin Khattab di masa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata, “Inilah sebaik-baik bid’ah!” (Shahih Bukhari hadits no. 1906). Poin ini termasuk yang paling diperdebatkan antar dua kubu ulama. Tapi hendaknya dihormati pendapat yang membela bid’ah hasanah, karena seorang al-Imam asy-Syafii telah memakai dalil ini untuk memisahkan antarabid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela.
(Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

3. Dua kali adzan di Shalat Jumat tidak pernah dilakukan di masa Rasul shallallahu alaihi wasallam. Tidak pula di masa Khalifah Abu Bakar shiddiq. Khalifah Umar bin khattab pun belum memerintahkannya. Namun baru dilakukan di masa Utsman bn Affan, dan diteruskan hingga kini.
(Shahih Bukhari hadits no. 873)

4. Ibnu Umar membiarkan shalat dhuha berjamaah yang terjadi di masjid Nabawi, walaupun menyebutnya sebagai bid’ah.
Diriwayatkan dari Mujahid berkata: Saya dan ‘Urwah bin Zubair telah memasuki mesjid, sedangkan Abdullah bin Umar duduk di kamar Aisyah sementara orang-orang sedang melaksanakan shalat dhuha secara berjamaah, kami pun bertanya kepadanya tentang shalat orang-orang tersebut, dan beliau menjawab “Bid’ah”.

5. al-Imam al-Bukhari, yang disebut Amirul Mu’minin fil-hadis selalu melakukan sholat 2 rakaat sebelum memasukkan suatu hadis ke kitab Shahih-nya. Hal ini beliau sebutkan sendiri di mukaddimah kitab Shahih-nya tersebut.

6. al-Imam at-Tirmidzi menganggap membaca “shadaqallahul-azhim” selepas membaca al-Quran adalah bagian dari adab, walaupun tidak ada hadis tegas ttg hal ini, hanya ada dalil umum dari al-Quran. Hal ini diikuti oleh ulama ahli Tafsir, al-Imam al-Qurthubi sebagaimana beliau sebutkan dalam kitab tafsirnya.

7. Telah disebutkan oleh para ulama, sebagaimana al-Imam an-Nawawi juga menyebutkannya dalam kitab al-Adzkar, bahwa salah satu adab membaca al-Quran adalah menghadap kiblat, padahal tidak ada dalil yang tegas dan khusus dalam masalah ini.

8. al-Imam As Suyuthi mengatakan peringatan maulid sebagai min ahsani maa ubtudi’a(termasuk bid’ah yang terbaik),  beliau menyusun kitab Husnul Maqshud fi ‘Amalil Maulud(Tujuan Kebaikan dalam Amal Maulid).

9. Lafazh takbir “Allahu akbar kabira walhamdulillahi katsira wa subhanallahi….” tidak ada dalilnya, namun hal ini dipraktekkan di Masjidil Haram sampai sekarang.

10. Ucapan “shalaatul qiyaami atsaabakumullah”, sebelum shalat qiyamul-layl di Masjidil Haram masih dipraktekkan hingga sekarang walaupun tidak ada dasarnya dari Nabi shallalahu alaihi wasallam

11. Para Imam di Masjidil-Haram selalu memperpanjang doa qunut witirnya melebihi apa yang diriwiyatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal ini pun dibenarkan oleh asy-Syaikh al-Utsaimin dalam salah satu risalahnya yang membahas qunut.

12. Berbeda dengan shalawat yg disyariatkan ketika menyebut nama Nabi shallallahu alaihi wasallam, tidak ada dalil khusus tentang penyebutan radhiallahu anhum bagi para sahabat (hanya ada dalil umum dalam al-Quran), ataupun rahimahumullah. Tetapi hal ini dipraktekkan mulai dari zaman salaf hingga sekarang.

Demikianlah sebagian bid’ah hasanah yang dipraktekkan dari masa ke masa. Dalam hal ini, ulama yang membolehkan bid’ah hasanah menganggap adanya dalil umum (co. ucapan shodaqallahu)  atau kemashlahatan (co. adzan jumat 2 kali) bisa menjadi landasan munculnya bid’ah hasanah.
وهذا الحديث من قواعد الدين لأنه يندرج تحته من الأحكام ما لا يأتي عليه الحصر وما مصرحه وأدله على إبطال ما فعله الفقهاء من تقسيم البدع إلى أقسام وتخصيص الردببعضها بلا مخصص من عقل ولا نقل
فعليك إذا سمعت من يقول هذه بدعة حسنة بالقيام في مقام المنع مسندا له بهذه الكلية وما يشابهها من نحو قوله صلى الله عليه وآله وسلم كل بدعة ضلالة طالبا لدليل تخصيص تلك البدعة التي وقع النزاع في شأنها بعد الاتفاق على أنها بدعة فإن جاءك به قبلته وإن كاع كنت قد ألقمته حجرا واسترحت من المجادل
ة

“hadits hadits ini merupakan kaidah kaidah dasar agama karena mencakup hukum hukum yg tak terbatas, betapa jelas dan terangnya dalil ini dalam menjatuhkan perbuatan para fuqaha dalam pembagian bid’ah kepada berbagai bagian dan mengkhususkan penolakan pada sebagiannya (penolakan thd bid’ah hasanah) dengan tanpa mengkhususkan (menunjukkan) hujjah dari dalil akal ataupun dalil tulisan (Alqur’an/hadits),

maka bila kau dengar orang berkata : “ini adalah Bid’ah hasanah”, dg kau mengambil posisi melarangnya dg bertopang pada dalil bahwa keseluruhan Bid’ah adalah sesat dan yg semacamnya sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : “semua Bid’ah adalah sesat” dan (kau) meminta dalil pengkhususan (secara aqli dan naqli) mengenai hal Bid’ah yg menjadi pertentangan dalam penentuannya (apakah itu bid’ah yg baik atau bid’ah yg sesat) setelah ada kesepakatan bahwa hal itu Bid’ah (hal baru), maka bila ia membawa dalilnya (tentang Bid’ah hasanah) yg dikenalkannya maka terimalah, bila ia tak bisa membawakan dalilnya (aqlan wa syar’an) maka sungguh kau telah menaruh batu dimulutnya dan kau selesai dari perdebatan” (Naylul Awthaar Juz 2 hal 69-70).

Wallahu a’lam

Sumber: http://abusyakura.multiply.com/journal/item/6

Ditinjau dari sisi politik dan keamanan, hadirnya Laskar Jihad sangat menolong umat Islam, terutama warga Muslim Ambon dan Maluku Utara yang menderita. Tetapi di balik itu juga muncul penyimpangan-penyimpangan yang banyak. Keberadaan Laskar Jihad dengan segala sepak-terjangnya membuktikan betapa lemahnya pemahaman anggota “organisasi” tersebut. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, lalu ulama-ulama yang menjadi rujukan Salafy Yamani, terutama Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, merekomendasikan agar FKAWJ dan Laskar Jihad dibubarkan. Sekitar pertengahan oktober 2002, dewan eksekutif FKAW membubarkan FKAWJ sekaligus laskar jihad.

Menarik sekali mencermati pernyataan dari DPP FKAWJ, berupa “Press Release Pembubaran FKAWJ dan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah,” di situs http://www.laskarjihad.or.id, di sana disebutkan pernyataan-pernyataan yang sungguh menyentuh hati, yaitu:
Pertama, tujuan utama pembentukan FKAWJ dan Laskar Jihad adalah untuk berjihad di Maluku, berdasarkan Qur’an, Sunnah dan Fatwa mufti Salafi.
Kedua, dalam berjihad, FKAWJ dan Laskar Jihadnya selalu disarankan oleh para mufti Salafi.
Ketiga, dalam menilai jihad tampaknya kelemahan-kelemahan dan kurangnya kemampuan FKAWJ dan Laskar Jihad berakibat terjadinya kesalahan atau penyimpangan dari metodologi dan moralitas.
Keempat, kami bertobat pada Allah atas seluruh kesalahan, penyimpangan dan kekeliruan yang membuat kami berada dalam situasi-situasi ini.
Bukan hanya sekadar dibubarkan, tetapi sebagian mantan anggota FKAWJ dan Laskar Jihad juga jatuh dalam penyimpangan-penyimpangan. Paling tidak mereka tercerai berai dan menanggung trauma yang tidak ringan.
Padahal konon Ja’far Umar selalu konsultasi dengan guru-gurunya dalam tindakan-tindakan yang dia ambil. Hal itu tercermin dari tulisan-tulisan Ja’far Umar di majalah Salafy juga pengakuannya di media-media. Mungkin saja suatu ketika dia lalai dari konsultasi dan mengambil jalannya sendiri, misalnya ketika dia menganggap Abdurrahman wahid telah kafir, atau ketika dia menghukum rajam salah seorang anggota Laskar Jihad yang terbukti berzina di Ambon. Tetapi yang harus dicermati ialah Ja’far Umar telah didukung oleh ulama-ulama tersebut untuk berjihad di Ambon, sehingga jika terjadi sesuatu, seharusnya ulama-ulama tersebut juga tidak cepat-cepat berlepas tangan. Apalagi harus dipahami bahwa FKAWJ atau Laskar Jihad bukan organisasi main-main, organisasi ini besar dalam skup nasional bahkan eksistensinya diperhitungkan oleh dunia Internasional.
Sebagai ilustrasi, pada bulan Juli 2000, setelah ribuan sukarelawan Laskar  Jihad masuk ke Ambon, satu demi satu daerah Muslim yang semulai dikuasai Nasrani berhasil direbut kembali. Kemajuan ini membuat pemerintah Amerika Serikat gerah. Melalui juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Phillip Reeker, pemerintah AS merasa perlu ikut berkomentar: “Secara khusus, pemerintah Indonesia harus mencegah kelompok-kelompok terorganisir yang melakukan serangan dan menghentikan para ekstrimis dari luar Maluku yang memanas-manaskan situasi dan terlibat dalam kekerasan.” (Sabili, No.2/Th VIII, 12 Juli 2000, hal.12). Tentu saja, pihak yang paling disinggung dengan sebutan kelompok terorganisir dan ekstrimis dari luar Maluku itu ialah Laskar Jihad.
Selain itu, jika Ja’far Umar memang dikenal cenderung bersikap berlebihan (ghuluw), maka seharusnya guru-gurunya telah mencegahnya sejak awal agar tidak memimpin Laskar Jihad. Bahkan yang menjadi pertanyaan, mengapa para Syaikh itu mendukung organisasi hizbiyyah seperti FKAWJ dan Laskar Jihad itu, padahal mereka terkenal sangat anti terhadap sistem organisasi seperti itu?
Sulit dibayangkan jika prakarsa pembentukan FKAWJ atau Laskar Jihad murni merupakan buah pikiran Ja’far Umar. Dia pasti sudah berkonsultasi dengan guru-gurunya. Jika organisasi model hizbiyyah (pergerakan/kepartaian) itu memang keliru, seharusnya Ja’far umar telah diperingati sejak awal, bukan setelah di jatuh terpuruk, lalu ditimpa peringatan yang sungguh pahit. Padahal Ulama-ulama Salafy Yamani ikut andil sehingga DPP FKAWJ kemudian mengeluarkan kalimat pernyataan berikut: “Kami bertobat pada Allah atas seluruh kesalahan, penyimpangan dan kekeliruan yang membuat kami berada dalam situasi-situasi ini.” Ini adalah kalimat yang sangat mengharukan yang sekaligus menunjukkan betapa tidak berdayanya para pemuda anggota mereka ketika dihadapkan kepada situasi-situasi sangat pelik yang menuntut kedalaman ilmu dan kesabaran tinggi.
Ja’far Umar diberikan peringatan keras, lalu para pengikutnya menjauhkan diri darinya. Pesantren Ihyaus Sunnah di Yogyakarta yang dia kelola tiba-tiba melompong, ditinggalkan para penuntut ilmu yang dulu memadatinya. Satu demi satu koleganya mulai mejauhi, termasuk karibnya, teman seiya-sekata dalam perjuangan, Muhammad Umar As Sewed. Jika Ja’far Umar harus menanggung beban berat di pundaknya atas masa lalu FKAWJ dan Laskar Jihad, maka Muhammad As Sewed masih tetap “bersih” dan “terus terpakai”. Tokoh satu ini kemudian menjadi tokoh panutan dakwah Salafy Yamani pasca pembubaran FKAWJ dan Laskar Jihad.
Lebih buruk dari itu, Ja’far Umar Setelah ditinggalkan komunitas lamanya, dia mencoba membangun gerakan dari sisa-sisa pemuda yang masih bersimpati kepadanya. Mereka menghidupkan kembali majalah Salafy, tetapi dengan semangat berbeda dari sebelumnya. Dalam salah satu edisi Salafy pasca Laskar Jihad, Ja’far Umar membela praktik dzikir berjama’ah yang dilakukan oleh Majlis Az Zikra pimpinan Arifin Ilham. Alasan mereka, yang mengingkari dzikir berjamaah hanya Imam Syathibi saja. Ja’far Umar juga sering hadir dalam majlis Arifin Ilham atau majlis pertemuan dengan tokoh-tokoh lainnya, dimana hal itu sangat mustahil dia lakukan di masa jayanya.
Dalam salah satu tulisan di http://www.salafy.or.id, Ustadz Qamar Su’aidi, LC. Menulis tentang pergeseran pendirian Ja’far Umar dalam artikel berjudul Ja’far Umar Thalib Telah Meninggalkan Kita. Di bagian awal tulisan Su’aidi menulis: “Adapun sekarang betapa jauh keadaannya dari yang dulu (Ja’far Umar Thalib). Jangankan majlis seperti yang engkau tidak mau menghadirinya saat itu, bahkan sekarang majlis dzikirnya Arifin Ilham kamu hadiri, majlis Refleksi Satu Hati dengan para pendeta dan biksu kamu hadiri (di UGM), majlis dalam peresmian pesantren Tawwabin yang diprakarsai oleh Habib Rizq Syihab, Abu Bakar Ba’asyir Majelis Mujahidin Indonesia dan lain-lain kamu hadiri, juga peringatan Isra’ Mi’raj sebagaimana dinukil dalam majalah Sabili dan banyak lagi yang lain yang sejenisnya.”
Kenyataan-kenyataan seperti di atas tentu merupakan titik balik  yang tidak pernah terbayangkan akan dialami oleh Ja’far Umar.
Kini Salafy Yamani telah lepas dari kegetiran-kegetiran masa lalu, meskipun kesan negatif atau trauma di hati masyarakat luas, masih ada. Walaupun begitu, tampaknya sikap-sikap keras dan kasar itu masih belum sepenuhnya berubah menjadi sikap hikmah dan mau’izhah hasananh. Dalam suasananya yang baru, ternyata mantan-mantan anggota FKAWJ dan Laskar Jihad masih terus bersikap keras, tidak pandang bulu, begitu mudah memvonis, dan tetap memerlihatkan kesan-kesan keangkuhan di hati.
Tidak murah senyum dan bermuka masam adalah ciri dakwah orang-orang Salafy, demikian pula sikap untuk mudah mengkafirkan orang lain. Padahal dalam mengajak manusia ke jalan kebenaran dibutuhkan cara-cara bijaksana dan penuh hikmah. Ketika kelompok-kelompok seperti LDII, Ahmadiyyah dan JIL menyebarkan ajaran-ajarannya dengan cara lemah lembut, ajaran mereka segera diikuti oleh banyak manusia. Tidak mengherankan jika para misionaris juga menempuh cara seperti ini untuk menjalankan misinya meskipun mereka harus bersusah payah.
Sebaliknya, ketika ajaran yang benar diajarkan dengan cara-cara keras, maka manusia pun akan lari menjauhi. Seseorang bisa menolak kebenaran bukan karena isinya, tetapi karena cara menyampaikan.”

Ditinjau dari sisi politik dan keamanan, hadirnya Laskar Jihad sangat menolong umat Islam, terutama warga Muslim Ambon dan Maluku Utara yang menderita. Tetapi di balik itu juga muncul penyimpangan-penyimpangan yang banyak. Keberadaan Laskar Jihad dengan segala sepak-terjangnya membuktikan betapa lemahnya pemahaman anggota “organisasi” tersebut. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, lalu ulama-ulama yang menjadi rujukan Salafy Yamani, terutama Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, merekomendasikan agar FKAWJ dan Laskar Jihad dibubarkan. Sekitar pertengahan oktober 2002, dewan eksekutif FKAW membubarkan FKAWJ sekaligus laskar jihad.

Menarik sekali mencermati pernyataan dari DPP FKAWJ, berupa “Press Release Pembubaran FKAWJ dan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah,” di situs http://www.laskarjihad.or.id, di sana disebutkan pernyataan-pernyataan yang sungguh menyentuh hati, yaitu:

Pertama, tujuan utama pembentukan FKAWJ dan Laskar Jihad adalah untuk berjihad di Maluku, berdasarkan Qur’an, Sunnah dan Fatwa mufti Salafi.

Kedua, dalam berjihad, FKAWJ dan Laskar Jihadnya selalu disarankan oleh para mufti Salafi.

Ketiga, dalam menilai jihad tampaknya kelemahan-kelemahan dan kurangnya kemampuan FKAWJ dan Laskar Jihad berakibat terjadinya kesalahan atau penyimpangan dari metodologi dan moralitas.

Keempat, kami bertobat pada Allah atas seluruh kesalahan, penyimpangan dan kekeliruan yang membuat kami berada dalam situasi-situasi ini.

Bukan hanya sekadar dibubarkan, tetapi sebagian mantan anggota FKAWJ dan Laskar Jihad juga jatuh dalam penyimpangan-penyimpangan. Paling tidak mereka tercerai berai dan menanggung trauma yang tidak ringan.

Padahal konon Ja’far Umar selalu konsultasi dengan guru-gurunya dalam tindakan-tindakan yang dia ambil. Hal itu tercermin dari tulisan-tulisan Ja’far Umar di majalah Salafy juga pengakuannya di media-media. Mungkin saja suatu ketika dia lalai dari konsultasi dan mengambil jalannya sendiri, misalnya ketika dia menganggap Abdurrahman wahid telah kafir, atau ketika dia menghukum rajam salah seorang anggota Laskar Jihad yang terbukti berzina di Ambon. Tetapi yang harus dicermati ialah Ja’far Umar telah didukung oleh ulama-ulama tersebut untuk berjihad di Ambon, sehingga jika terjadi sesuatu, seharusnya ulama-ulama tersebut juga tidak cepat-cepat berlepas tangan. Apalagi harus dipahami bahwa FKAWJ atau Laskar Jihad bukan organisasi main-main, organisasi ini besar dalam skup nasional bahkan eksistensinya diperhitungkan oleh dunia Internasional.

Sebagai ilustrasi, pada bulan Juli 2000, setelah ribuan sukarelawan Laskar  Jihad masuk ke Ambon, satu demi satu daerah Muslim yang semulai dikuasai Nasrani berhasil direbut kembali. Kemajuan ini membuat pemerintah Amerika Serikat gerah. Melalui juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Phillip Reeker, pemerintah AS merasa perlu ikut berkomentar: “Secara khusus, pemerintah Indonesia harus mencegah kelompok-kelompok terorganisir yang melakukan serangan dan menghentikan para ekstrimis dari luar Maluku yang memanas-manaskan situasi dan terlibat dalam kekerasan.” (Sabili, No.2/Th VIII, 12 Juli 2000, hal.12). Tentu saja, pihak yang paling disinggung dengan sebutan kelompok terorganisir dan ekstrimis dari luar Maluku itu ialah Laskar Jihad.

Selain itu, jika Ja’far Umar memang dikenal cenderung bersikap berlebihan (ghuluw), maka seharusnya guru-gurunya telah mencegahnya sejak awal agar tidak memimpin Laskar Jihad. Bahkan yang menjadi pertanyaan, mengapa para Syaikh itu mendukung organisasi hizbiyyah seperti FKAWJ dan Laskar Jihad itu, padahal mereka terkenal sangat anti terhadap sistem organisasi seperti itu?

Sulit dibayangkan jika prakarsa pembentukan FKAWJ atau Laskar Jihad murni merupakan buah pikiran Ja’far Umar. Dia pasti sudah berkonsultasi dengan guru-gurunya. Jika organisasi model hizbiyyah (pergerakan/kepartaian) itu memang keliru, seharusnya Ja’far umar telah diperingati sejak awal, bukan setelah di jatuh terpuruk, lalu ditimpa peringatan yang sungguh pahit. Padahal Ulama-ulama Salafy Yamani ikut andil sehingga DPP FKAWJ kemudian mengeluarkan kalimat pernyataan berikut: “Kami bertobat pada Allah atas seluruh kesalahan, penyimpangan dan kekeliruan yang membuat kami berada dalam situasi-situasi ini.” Ini adalah kalimat yang sangat mengharukan yang sekaligus menunjukkan betapa tidak berdayanya para pemuda anggota mereka ketika dihadapkan kepada situasi-situasi sangat pelik yang menuntut kedalaman ilmu dan kesabaran tinggi.

Ja’far Umar diberikan peringatan keras, lalu para pengikutnya menjauhkan diri darinya. Pesantren Ihyaus Sunnah di Yogyakarta yang dia kelola tiba-tiba melompong, ditinggalkan para penuntut ilmu yang dulu memadatinya. Satu demi satu koleganya mulai mejauhi, termasuk karibnya, teman seiya-sekata dalam perjuangan, Muhammad Umar As Sewed. Jika Ja’far Umar harus menanggung beban berat di pundaknya atas masa lalu FKAWJ dan Laskar Jihad, maka Muhammad As Sewed masih tetap “bersih” dan “terus terpakai”. Tokoh satu ini kemudian menjadi tokoh panutan dakwah Salafy Yamani pasca pembubaran FKAWJ dan Laskar Jihad.

Lebih buruk dari itu, Ja’far Umar Setelah ditinggalkan komunitas lamanya, dia mencoba membangun gerakan dari sisa-sisa pemuda yang masih bersimpati kepadanya. Mereka menghidupkan kembali majalah Salafy, tetapi dengan semangat berbeda dari sebelumnya. Dalam salah satu edisi Salafy pasca Laskar Jihad, Ja’far Umar membela praktik dzikir berjama’ah yang dilakukan oleh Majlis Az Zikra pimpinan Arifin Ilham. Alasan mereka, yang mengingkari dzikir berjamaah hanya Imam Syathibi saja. Ja’far Umar juga sering hadir dalam majlis Arifin Ilham atau majlis pertemuan dengan tokoh-tokoh lainnya, dimana hal itu sangat mustahil dia lakukan di masa jayanya.

Dalam salah satu tulisan di http://www.salafy.or.id, Ustadz Qamar Su’aidi, LC. Menulis tentang pergeseran pendirian Ja’far Umar dalam artikel berjudul Ja’far Umar Thalib Telah Meninggalkan Kita. Di bagian awal tulisan Su’aidi menulis: “Adapun sekarang betapa jauh keadaannya dari yang dulu (Ja’far Umar Thalib). Jangankan majlis seperti yang engkau tidak mau menghadirinya saat itu, bahkan sekarang majlis dzikirnya Arifin Ilham kamu hadiri, majlis Refleksi Satu Hati dengan para pendeta dan biksu kamu hadiri (di UGM), majlis dalam peresmian pesantren Tawwabin yang diprakarsai oleh Habib Rizq Syihab, Abu Bakar Ba’asyir Majelis Mujahidin Indonesia dan lain-lain kamu hadiri, juga peringatan Isra’ Mi’raj sebagaimana dinukil dalam majalah Sabili dan banyak lagi yang lain yang sejenisnya.”

Kenyataan-kenyataan seperti di atas tentu merupakan titik balik  yang tidak pernah terbayangkan akan dialami oleh Ja’far Umar.

Kini Salafy Yamani telah lepas dari kegetiran-kegetiran masa lalu, meskipun kesan negatif atau trauma di hati masyarakat luas, masih ada. Walaupun begitu, tampaknya sikap-sikap keras dan kasar itu masih belum sepenuhnya berubah menjadi sikap hikmah dan mau’izhah hasananh. Dalam suasananya yang baru, ternyata mantan-mantan anggota FKAWJ dan Laskar Jihad masih terus bersikap keras, tidak pandang bulu, begitu mudah memvonis, dan tetap memerlihatkan kesan-kesan keangkuhan di hati.

Tidak murah senyum dan bermuka masam adalah ciri dakwah orang-orang Salafy, demikian pula sikap untuk mudah mengkafirkan orang lain. Padahal dalam mengajak manusia ke jalan kebenaran dibutuhkan cara-cara bijaksana dan penuh hikmah. Ketika kelompok-kelompok seperti LDII, Ahmadiyyah dan JIL menyebarkan ajaran-ajarannya dengan cara lemah lembut, ajaran mereka segera diikuti oleh banyak manusia. Tidak mengherankan jika para misionaris juga menempuh cara seperti ini untuk menjalankan misinya meskipun mereka harus bersusah payah.

Sebaliknya, ketika ajaran yang benar diajarkan dengan cara-cara keras, maka manusia pun akan lari menjauhi. Seseorang bisa menolak kebenaran bukan karena isinya, tetapi karena cara menyampaikan.”

Diambil dari:

http://kupretist.multiply.com/tag/inside%20salafy

Tanggal 19 Januari 1999, tepatnya pada Hari Raya Idul Fitri, terjadi tragedi berdarah di Kota Ambon. Tragedi ini menyulut kemarahan besar umat Islam di tempat-tempat lain terutama yang ada di pulau Jawa. Umat Islam tidak akan membiarkan saudara-saudaranya di Ambon dianiaya oleh kaum Nasrani, maka mereka segera menurunkan kelompok-kelompok Jihad untuk melakukan pembelaan sekuat kemampuan. Berbagai kalangan Islam menurunkan kekuatannya, misalnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Partai Keadilan (PK), Wahdah Islamiyah Makassar, bahkan Jamaah Tabligh (JT) pun menurunkan kafilah-kafilah khurujnya kesana. Desember 1999 terjadi kembali tragedi berdarah di Maluku, khususnya di Tobelo, Maluku Utara. Tragedi ini tidak kalah besarnya dibandingkan tragedi Ambon.

Sebagai salah satu bentuk tanggapan kongkrit atas tragedi berdarah di provinsi Maluku tersebut, FKAWJ membentuk sebuah sayap militer yang dinamakan Laskar Jihad (LJ), pada tanggal 30 Januari 2000. Laskar Jihad mendaulat Ustadz Ja’far Umar Thalib sebagai panglimanya, sedang Ayip Syafrudin menjadi wakilnya sekaligus juru bicara Laskar Jihad. Seorang peneliti, Noorhaidi Hasan, secara ringkas menjelaskan hakikat Laskar Jihad: “Sebagai sayap para militer FKAWJ, Laskar Jihad mencerminkan struktur formal militer Indonesia terdiri dari Brigade, batalion, kompi peleton, dan regu, dan bahkan memiliki badan intelijen sendiri. Ditunjuk sebagai panglima Laskar Jihad, Thalib dengan didukung oleh sejumlah komandan lapangan, termasuk Ali Fauzi dan Abu Bakar Wahid al-Banjari.” (Dikutip Sukidi Mulyadi dari Faith and Politics: The Rise of Laskar Jihad in the Era of Transition in Indonesia, Noorhaidi Hasan, April 2002, hal. 159)
Kenyataannya memang seperti itu, Laskar Jihad bisa dikatakan sebagai kelompok perlawanan Islam yang paling sistematik. Mula-mula mereka menyebarkan pengumuman yang berisi ajakan terbuka kepada para pemuda Islam untuk datang ke Gelora Senayan Jakarta dan mempersiapkan jihad membela umat Islam di Ambon dan Maluku. Tanggal 6 April 2000, Laskar Jihad mengadakan pertemuan akbar di Senayan Jakarta. Mereka memakai pakaian ala Mujahidin, seperti gamis putih-putih selutut, sorban, sepatu, laras panjang, sabuk, ransel militer, dan tidak lupa membawa macam-macam senjata tajam. Selain itu mereka mendirikan pos-pos koordinasi di setiap kota, memiliki media sendiri yaitu buletin Al Wala’ Wal Bara’, Buletin Laskar Jihad, website http://www.laskarjihad.or.id, bahkan radio FM amatir Suara Perjuangan Muslim Maluku (SPMM). Dibandingkan kelompok-kelompok Jihad lainnya, Laskar Jihad tampak lebih sistematis dan kompleks.
Masih di awal april 2000, ratusan pasukan Laskar Jihad berdemo di depan istana negara memprotes kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Mereka berdemo dengan menyandang senjata tajam. Uniknya, pihak aparat keamanan seperti tidak berbuat apa-apa. Dalam kesempatan itu Ja’far Umar beserta beberapa tokoh lainnya masuk ke istana dan dia langsung menghardik Abdurrahman Wahid. Hal ini disebutkan dalam salah satu edisi majalah Sabili. Konon, belum pernah ada satu pun orang di Indonesia yang berani menghardik Abdurrahman Wahid dengan kata-kata “Sinting”, selain Ja’far Umar, kecual di masa-masa akhir seperti Habib Riziq Syihab. Bahkan dalam wawancara dengan Sabili, Ja’far Umar mengatakan bahwa Abdurrahman Wahid itu sudah kafir. Ja’far Umar mengklaim bahwa dia telah berkonsultasi dengan ulama-ulama di Timur Tengah tentang status kafirnya Abdurrahman Wahid.
Diambil dari:

Tanggal 19 Januari 1999, tepatnya pada Hari Raya Idul Fitri, terjadi tragedi berdarah di Kota Ambon. Tragedi ini menyulut kemarahan besar umat Islam di tempat-tempat lain terutama yang ada di pulau Jawa. Umat Islam tidak akan membiarkan saudara-saudaranya di Ambon dianiaya oleh kaum Nasrani, maka mereka segera menurunkan kelompok-kelompok Jihad untuk melakukan pembelaan sekuat kemampuan. Berbagai kalangan Islam menurunkan kekuatannya, misalnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Partai Keadilan (PK), Wahdah Islamiyah Makassar, bahkan Jamaah Tabligh (JT) pun menurunkan kafilah-kafilah khurujnya kesana. Desember 1999 terjadi kembali tragedi berdarah di Maluku, khususnya di Tobelo, Maluku Utara. Tragedi ini tidak kalah besarnya dibandingkan tragedi Ambon.

Sebagai salah satu bentuk tanggapan kongkrit atas tragedi berdarah di provinsi Maluku tersebut, FKAWJ membentuk sebuah sayap militer yang dinamakan Laskar Jihad (LJ), pada tanggal 30 Januari 2000. Laskar Jihad mendaulat Ustadz Ja’far Umar Thalib sebagai panglimanya, sedang Ayip Syafrudin menjadi wakilnya sekaligus juru bicara Laskar Jihad. Seorang peneliti, Noorhaidi Hasan, secara ringkas menjelaskan hakikat Laskar Jihad: “Sebagai sayap para militer FKAWJ, Laskar Jihad mencerminkan struktur formal militer Indonesia terdiri dari Brigade, batalion, kompi peleton, dan regu, dan bahkan memiliki badan intelijen sendiri. Ditunjuk sebagai panglima Laskar Jihad, Thalib dengan didukung oleh sejumlah komandan lapangan, termasuk Ali Fauzi dan Abu Bakar Wahid al-Banjari.” (Dikutip Sukidi Mulyadi dari Faith and Politics: The Rise of Laskar Jihad in the Era of Transition in Indonesia, Noorhaidi Hasan, April 2002, hal. 159)

Kenyataannya memang seperti itu, Laskar Jihad bisa dikatakan sebagai kelompok perlawanan Islam yang paling sistematik. Mula-mula mereka menyebarkan pengumuman yang berisi ajakan terbuka kepada para pemuda Islam untuk datang ke Gelora Senayan Jakarta dan mempersiapkan jihad membela umat Islam di Ambon dan Maluku. Tanggal 6 April 2000, Laskar Jihad mengadakan pertemuan akbar di Senayan Jakarta. Mereka memakai pakaian ala Mujahidin, seperti gamis putih-putih selutut, sorban, sepatu, laras panjang, sabuk, ransel militer, dan tidak lupa membawa macam-macam senjata tajam. Selain itu mereka mendirikan pos-pos koordinasi di setiap kota, memiliki media sendiri yaitu buletin Al Wala’ Wal Bara’, Buletin Laskar Jihad, website http://www.laskarjihad.or.id, bahkan radio FM amatir Suara Perjuangan Muslim Maluku (SPMM). Dibandingkan kelompok-kelompok Jihad lainnya, Laskar Jihad tampak lebih sistematis dan kompleks.

Masih di awal april 2000, ratusan pasukan Laskar Jihad berdemo di depan istana negara memprotes kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Mereka berdemo dengan menyandang senjata tajam. Uniknya, pihak aparat keamanan seperti tidak berbuat apa-apa. Dalam kesempatan itu Ja’far Umar beserta beberapa tokoh lainnya masuk ke istana dan dia langsung menghardik Abdurrahman Wahid. Hal ini disebutkan dalam salah satu edisi majalah Sabili. Konon, belum pernah ada satu pun orang di Indonesia yang berani menghardik Abdurrahman Wahid dengan kata-kata “Sinting”, selain Ja’far Umar, kecual di masa-masa akhir seperti Habib Riziq Syihab. Bahkan dalam wawancara dengan Sabili, Ja’far Umar mengatakan bahwa Abdurrahman Wahid itu sudah kafir. Ja’far Umar mengklaim bahwa dia telah berkonsultasi dengan ulama-ulama di Timur Tengah tentang status kafirnya Abdurrahman Wahid.

Diambil dari:

http://kupretist.multiply.com/tag/inside%20salafy

Atas berbagai cara keras yang ditempuh Ja’far Umar dan para koleganya itu, ia menyulut kemarahan salah seorang tokoh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy yang ditugaskan di Indonesia. Dia adalah Syarif bin Muhammad Fuad Hazza salah seorag dai Ihyaut Turats dari Kuwait yang ditugaskan mengajar di Pesantren Al Irsyad Tengaran Salatiga, Jawa Tengah. Jum’iyyah Ihyaut Turats sendiri oleh Salafy Yamani dimasukkan dalam kategori gerakan dakwah yang dikembangkan oleh Ja’far Umar, terutama melalui majalah Salafy. Kemudian atas inisiatifnya sendiri, Syarif Hazza menyebarkan selebaran berjudul Penjelasan dan Ajakan, yang diterjemahkan oleh Yusuf Utsman Baisa, pimpinan Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga. Inti selebaran itu ialah mengajak Ja’far Umar melakukan mubahalah (perang doa) agar Allah melaknati salah satu dari keduanya yang terbukti sebagai pendusta.
Berikut ini sebagian pernyataan Syarif Hazza: “Dan semenjak saya datang hingga saat ini saya selalu mendengar tentang saudara Ja’far Thalib dan gerakan dakwahnya, saya dengar dan diterjemahkan untuk saya apa yang disebarkan oleh majalah “Salafy”. Saya dapati bahwa orang ini bodoh tentang madzhab Salaf, bahkan juga dalam hal ajaran Islam secara umum, tidak heran karena hal ini telah dikhabarkan oleh Nabi Muhammad saw tentang akan munculnya para pemimpin yang bodoh. Saya pergi berziarah padanya di bulan Ramadhan 1416 H bersama 4 orang guru pesantren Al Irsyad, saya menasehati agar dia meninggalkan kebiasaannya dalam melecehkan orang, mencaci, mencerca, dan menggolongkan orang dalam golongan-golongan, saya jelaskan padanya tentang haramnya hal ini beserta dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah, dan kami berpisah dalam keadaan berbaikan. Tadinya saya menyangka dia akan berhenti dan bertaubat, kemudian saya dapati pada edisi kedua majalah Salafy, beberapa perkara yang bertentangan dengan Manhaj As Salafus Shalih, penafsiran ayat bukan semestinya dan menisbatkan beberapa pemikirannya seabgai keyakinan As Salaf.” (Penjelasan dan Ajakan, hal.1, 26 Mei 1996).
Di bagian selanjutnya Syarif Hazza menulis: “Kemudian orang dekatnya melecehkan saya dan menggolongkan saya seenak dustanya kepada orang-orang, maka saya hubungi dia dengan telepon umum namun tidak ada, kemudian saya hubungi orang dekatnya (Muhammad As Sewed), juga tidak ada, kemudian pada hari Ahad 8 Muharram 1417 H bertepatan dengan 26 Mei 1996, saya hubungi juga dengan telepon, namun dia mencaci dan memaki serta menuduh saya dengan tuduhan yang Allah Maha Tahu bahwa saya terlepas dari hal ini, maka saya balasi dengan apa yang dia berhak mendapatkannya.” (Penjelasan dan Ajakan, hal. 2).
Mubahalah itu pun akhirnya terjadi antara dua orang tokoh dakwah Islam, yaitu Ja’far Umar (Salafy Yamani) dan Syarif Muhammad Hazza (Ihyaut Turats Kuwait). Bagi masing-masing pelakunya, mungkin mubahalah itu merupakan amal Shalih yang sangat agung. Tetapi bagi kaum Muslimin secara umum yang melihat peristiwa itu, menganggapnya sebagai musibah besar bagi dakwah Islam. Betapa tidak, dua orang sama-sama Muslim, sama-sama Dai, sama-sama berilmu, saling berdoa agar Allah melaknati lawan-lawannya dan keluarga mereka sekalian. Padahal syariat mubahalah itu sendiri pada asalnya ditujukan sebagai solusi terakhir jika orang-orang Ahli Kitab tetap keras kepala dengan kesesatannya (QS. Ali Imran, 61).
Setelah peristiwa mubahalah itu, pihak Ja’far Umar menyusun “buku putih” untuk menjelaskan duduk perkara perselisihan di antara mereka, sekaligus menjelaskan kronologis peristiwa mubahalah itu. Kalau tidak salah judul bukunya yaitu Membantah Tuduhan Menjawab Tantangan. Selanjutnya hubungan antara Salafy Yamani dan Haraki semakin buruk, konflik pandangan di antara keduanya semakin menajam. Pertentangan antara syaikh-syaikh di Timur Tengah ternyata diikuti oleh pertentangan serupa antara ustadz-ustadz dan para pemuda Salafiyin di Indonesia. Kenyataan ini sungguh memprihatinkan, seolah hanya meng-copy paste konflik yang ada di Timur Tengah, lalu menumbuhkembangkannya di Indonesia. Alangkah jauhnya gambaran dakwah seperti itu dengan metode dakwah yang dipesankan Rasulullah saw kepada Mu’adz bin Jabal ra. Sebelum beliau bertolak ke Yaman. Seharusnya yang menjadi prioritas dakwah adalah penyebaran hikmah ilmu, bukan praktik konflik.
Pertengahan tahun 1997 terjadi krisis Moneter di Indonesia yang diikuti Krisis Ekonomi dan krisis-krisis lain. Krisis telah menyadarkan berbagai pihak bahwa Indonesia sedang berhadapan dengan permasalahan besar. Akibat krisis ini, banyak media-media Islam gulung tikar. Setelah krisis, majalah Salafy seolah tenggelam. Mungkin, akibat krisis biaya cetak majalah membengkak, sedangkan permodalan belum siap menghadapi perubahan secepat itu. Sementara itu anggota Salafy Haraki, mereka mulai membaca media-media umum, mencermati perkembangan informasi terbaru, padahal semula mereka menjauhi media-media itu. Secara umum iklim yang muncul di Indonesia ketika itu ialah semangat reformasi, yaitu semangat melakukan perubahan untuk mengakhiri era status quo Orde Baru. Sebagian besar perhatian masyarakat lebih tertuju ke persoalan kesulitan ekonomi dan melakukan perubahan di kalangan umat Islam untuk mengekspresikan ideologi dan pilihan politik masing-masing. Maka dari itu muncul partai-partai Islam, organisasi-organisasi Islam, bahkan pembicaraan tentang DI/NII dan Kartosoewirjo yang semulai dilarang, kemudian menjadi begitu bebasnya. Jamaah-jamaah dakwah Islam yang semula bergerak underground, mereka mulai berani tampil di permukaan. Reformasi seperti membedah harta karun semangat pergerakan dan berorganisasi di kalangan umat Islam Indonesia.
Semangat unjuk gigi dan kekelompokan itu sepertinya cukup mengganggu ketentaraman hati para Salafy Yamani. Seorang mereka merasa ketinggalan jika tidak ikut dalam euphoria politik yang ada. Tanggal 14 Februari 1998 dalam acara tabligh akbar di Solo, Ja’far Umar mendirikan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah (FKAWJ). Forum ini tidak jauh beda dengan kelompok kepartaian yang semula sangat mereka musuhi. Salafy Yamani sangat tidak rela dengan kelompok-kelompok fanatik. Dimanapun mereka menjumpai kelompok fanatik, mereka akan diingkarinya dengan keras.
Dalam hal ini mereka tentu paham dengan buku yang ditulis Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, yaitu Jamaah Wahidah Laa Jamaat, Wa Shiratu Wahid Laa Asyraat (Satu Jamaah Bukan Banyak Jamaah, Satu Jalan Bukan Banyak Jalan). Buku ini merupakan bantahan terhadap metode pergerakan yang ditempuh oleh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy dan Jamaah-Jamaah Islam. Tetapi kenyataannya, Salafy Yamani juga membentuk kelompok yang sama, yaitu FKAWJ. Namanya forum komunikasi, tetapi hakikat dan praktiknya serupa dengan organisasi-organisasi lain. Di sana ada pimpinan formal, aturan internal, dewan pengurus pusat (DPP), dewan pengurus wilayah, identitas khas, dll. FKAWJ dengan tokoh sentralnya, Ja’far Umar Thalib, di kemudian hari terlibat berbagai perkara yang sebelumnya mereka ingkari misalnya fotografi, wawancara dengan wartawan, konferensi pers, aksi-aksi publik beropini atas peristiwa-peristiwa politik, dll.
Diambil dari:

Atas berbagai cara keras yang ditempuh Ja’far Umar dan para koleganya itu, ia menyulut kemarahan salah seorang tokoh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy yang ditugaskan di Indonesia. Dia adalah Syarif bin Muhammad Fuad Hazza salah seorang dai Ihyaut Turats dari Kuwait yang ditugaskan mengajar di Pesantren Al Irsyad Tengaran Salatiga, Jawa Tengah. Jum’iyyah Ihyaut Turats sendiri oleh Salafy Yamani dimasukkan dalam kategori gerakan dakwah yang dikembangkan oleh Ja’far Umar, terutama melalui majalah Salafy. Kemudian atas inisiatifnya sendiri, Syarif Hazza menyebarkan selebaran berjudul Penjelasan dan Ajakan, yang diterjemahkan oleh Yusuf Utsman Baisa, pimpinan Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga. Inti selebaran itu ialah mengajak Ja’far Umar melakukan mubahalah (perang doa) agar Allah melaknati salah satu dari keduanya yang terbukti sebagai pendusta.

Berikut ini sebagian pernyataan Syarif Hazza: “Dan semenjak saya datang hingga saat ini saya selalu mendengar tentang saudara Ja’far Thalib dan gerakan dakwahnya, saya dengar dan diterjemahkan untuk saya apa yang disebarkan oleh majalah “Salafy”. Saya dapati bahwa orang ini bodoh tentang madzhab Salaf, bahkan juga dalam hal ajaran Islam secara umum, tidak heran karena hal ini telah dikhabarkan oleh Nabi Muhammad saw tentang akan munculnya para pemimpin yang bodoh. Saya pergi berziarah padanya di bulan Ramadhan 1416 H bersama 4 orang guru pesantren Al Irsyad, saya menasehati agar dia meninggalkan kebiasaannya dalam melecehkan orang, mencaci, mencerca, dan menggolongkan orang dalam golongan-golongan, saya jelaskan padanya tentang haramnya hal ini beserta dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah, dan kami berpisah dalam keadaan berbaikan. Tadinya saya menyangka dia akan berhenti dan bertaubat, kemudian saya dapati pada edisi kedua majalah Salafy, beberapa perkara yang bertentangan dengan Manhaj As Salafus Shalih, penafsiran ayat bukan semestinya dan menisbatkan beberapa pemikirannya seabgai keyakinan As Salaf.” (Penjelasan dan Ajakan, hal.1, 26 Mei 1996).

Di bagian selanjutnya Syarif Hazza menulis: “Kemudian orang dekatnya melecehkan saya dan menggolongkan saya seenak dustanya kepada orang-orang, maka saya hubungi dia dengan telepon umum namun tidak ada, kemudian saya hubungi orang dekatnya (Muhammad As Sewed), juga tidak ada, kemudian pada hari Ahad 8 Muharram 1417 H bertepatan dengan 26 Mei 1996, saya hubungi juga dengan telepon, namun dia mencaci dan memaki serta menuduh saya dengan tuduhan yang Allah Maha Tahu bahwa saya terlepas dari hal ini, maka saya balasi dengan apa yang dia berhak mendapatkannya.” (Penjelasan dan Ajakan, hal. 2).

Mubahalah itu pun akhirnya terjadi antara dua orang tokoh dakwah Islam, yaitu Ja’far Umar (Salafy Yamani) dan Syarif Muhammad Hazza (Ihyaut Turats Kuwait). Bagi masing-masing pelakunya, mungkin mubahalah itu merupakan amal Shalih yang sangat agung. Tetapi bagi kaum Muslimin secara umum yang melihat peristiwa itu, menganggapnya sebagai musibah besar bagi dakwah Islam. Betapa tidak, dua orang sama-sama Muslim, sama-sama Dai, sama-sama berilmu, saling berdoa agar Allah melaknati lawan-lawannya dan keluarga mereka sekalian. Padahal syariat mubahalah itu sendiri pada asalnya ditujukan sebagai solusi terakhir jika orang-orang Ahli Kitab tetap keras kepala dengan kesesatannya (QS. Ali Imran, 61).

Setelah peristiwa mubahalah itu, pihak Ja’far Umar menyusun “buku putih” untuk menjelaskan duduk perkara perselisihan di antara mereka, sekaligus menjelaskan kronologis peristiwa mubahalah itu. Kalau tidak salah judul bukunya yaitu Membantah Tuduhan Menjawab Tantangan. Selanjutnya hubungan antara Salafy Yamani dan Haraki semakin buruk, konflik pandangan di antara keduanya semakin menajam. Pertentangan antara syaikh-syaikh di Timur Tengah ternyata diikuti oleh pertentangan serupa antara ustadz-ustadz dan para pemuda Salafiyin di Indonesia. Kenyataan ini sungguh memprihatinkan, seolah hanya meng-copy paste konflik yang ada di Timur Tengah, lalu menumbuhkembangkannya di Indonesia. Alangkah jauhnya gambaran dakwah seperti itu dengan metode dakwah yang dipesankan Rasulullah saw kepada Mu’adz bin Jabal ra. Sebelum beliau bertolak ke Yaman. Seharusnya yang menjadi prioritas dakwah adalah penyebaran hikmah ilmu, bukan praktik konflik.

Pertengahan tahun 1997 terjadi krisis Moneter di Indonesia yang diikuti Krisis Ekonomi dan krisis-krisis lain. Krisis telah menyadarkan berbagai pihak bahwa Indonesia sedang berhadapan dengan permasalahan besar. Akibat krisis ini, banyak media-media Islam gulung tikar. Setelah krisis, majalah Salafy seolah tenggelam. Mungkin, akibat krisis biaya cetak majalah membengkak, sedangkan permodalan belum siap menghadapi perubahan secepat itu. Sementara itu anggota Salafy Haraki, mereka mulai membaca media-media umum, mencermati perkembangan informasi terbaru, padahal semula mereka menjauhi media-media itu. Secara umum iklim yang muncul di Indonesia ketika itu ialah semangat reformasi, yaitu semangat melakukan perubahan untuk mengakhiri era status quo Orde Baru. Sebagian besar perhatian masyarakat lebih tertuju ke persoalan kesulitan ekonomi dan melakukan perubahan di kalangan umat Islam untuk mengekspresikan ideologi dan pilihan politik masing-masing. Maka dari itu muncul partai-partai Islam, organisasi-organisasi Islam, bahkan pembicaraan tentang DI/NII dan Kartosoewirjo yang semulai dilarang, kemudian menjadi begitu bebasnya. Jamaah-jamaah dakwah Islam yang semula bergerak underground, mereka mulai berani tampil di permukaan. Reformasi seperti membedah harta karun semangat pergerakan dan berorganisasi di kalangan umat Islam Indonesia.

Semangat unjuk gigi dan kekelompokan itu sepertinya cukup mengganggu ketentaraman hati para Salafy Yamani. Seorang mereka merasa ketinggalan jika tidak ikut dalam euphoria politik yang ada. Tanggal 14 Februari 1998 dalam acara tabligh akbar di Solo, Ja’far Umar mendirikan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah (FKAWJ). Forum ini tidak jauh beda dengan kelompok kepartaian yang semula sangat mereka musuhi. Salafy Yamani sangat tidak rela dengan kelompok-kelompok fanatik. Dimanapun mereka menjumpai kelompok fanatik, mereka akan diingkarinya dengan keras.

Dalam hal ini mereka tentu paham dengan buku yang ditulis Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, yaitu Jamaah Wahidah Laa Jamaat, Wa Shiratu Wahid Laa Asyraat (Satu Jamaah Bukan Banyak Jamaah, Satu Jalan Bukan Banyak Jalan). Buku ini merupakan bantahan terhadap metode pergerakan yang ditempuh oleh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy dan Jamaah-Jamaah Islam. Tetapi kenyataannya, Salafy Yamani juga membentuk kelompok yang sama, yaitu FKAWJ. Namanya forum komunikasi, tetapi hakikat dan praktiknya serupa dengan organisasi-organisasi lain. Di sana ada pimpinan formal, aturan internal, dewan pengurus pusat (DPP), dewan pengurus wilayah, identitas khas, dll. FKAWJ dengan tokoh sentralnya, Ja’far Umar Thalib, di kemudian hari terlibat berbagai perkara yang sebelumnya mereka ingkari misalnya fotografi, wawancara dengan wartawan, konferensi pers, aksi-aksi publik beropini atas peristiwa-peristiwa politik, dll.

Diambil dari:

http://kupretist.multiply.com/tag/inside%20salafy

Selama ini orang awwam hanya mendengar selentingan mengenai Salafy, secara tidak langsung pengetahuan mereka terhadap Salafy masih buta. Sedangkan di satu sisi kelompok Salafy di Indonesia bergerak secara diam-diam dan berkedok berbagai macam dengan mengambil beberapa nama.

Namun secara garis besar bahwa komunitas Salafy di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain sebenarnya saling “bermusuhan”. Satu kelompok ialah Salafy Yamani yang merupakan kelanjutan dari Laskar Jihad di masa lalu, dan mereka merupakan jaringan para dai Salafy yang berafiliasi kepada Syaikh-Syaikh Salafy di Yaman dan Timur Tengah. Sedangkan satu kelompok lagi ialah Salafy Haraki, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan atau organisasi (Haraki)

Kedua pihak di atas sama-sama Salafy, terutama jika dipandang oleh pihak-pihak di luar keduanya. Tetapi uniknya kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan-perbedaan signifikan dalam pemikiran dan perilaku dakwahnya, sehingga keduanya tidak mungkin disatukan dalam satu sebutan. Jika kita menyebut mereka dengan satu sebutan saja (yaitu Salafy), maka keduanya akan mengklaim sebagai pihak yang paling berhak atas sebutan itu. Demikianlah yang terjadi selama ini. Jika kita menyebut Salafy Yamani dengan sebutan Salafy saja, pihak yang satunya pasti keberatan, sambil berkata, “Mereka bukan Salafy. Hanya bajunya saja yang Salafy.” Sebaliknya jika kita menyebut Salafy Haraki dengan sebutan Salafy, maka pihak yang satunya lagi juga keberatan, sambil berkata, “Mereka bukan Salafy, tetapi Salaf(i), yaitu Salaf imitasi.” Apapun istilah yang dianggap lebih tepat dan diridhai oleh kedua kalangan, maka penggunaan istilah Salafy Yamani dan Salafy Haraki dalam buku ini hanya untuk tujuan identifikasi, bukan tujuan lain-lain.

Penjelasan seputar istilah Salafy Yamani sudah disebutkan di bagian sebelumnya. Disini perlu dijelaskan lebih jauh tentang Salafy Haraki. Salafy Haraki adalah gerakan dakwah Salafiyah yang menerapkan metode pergerakan (Harakiyah). Metode tersebut meskipun tidak sama persis, serupa dengan metode yang ditempuh oleh jamaah-jamaah dakwah Islam, seperti Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jamaah Tabligh (JT), Jamaat Islam (JI), Negara Islam Indonesia (NII), dll. Pola Haraki (Pergerakan) inilah yang membedakan kelompok ini dengan Salafy Yamani dan Salafy-Salafy independen yang tidak mengikatkan diri dengan jamaah, madrasah, atau organisasi manapun.

Salafy Yamani sangat menolak metode pergerakan (Harakiyah), sebab hal itu dianggap sebagai bid’ah dan merupakan praktik fanatisme (hizbiyah). Sementara kalangan Salafy Haraki membutuhkan sistem organisasi (tanzhim) untuk membina dakwah di tengah berbagai fitnah kehidupan modern. Mereka menganggap penerapan sistem organisasi itu sebagai bentuk ijtihad yang diperbolehkan dalam Islam. Kedua belah pihak menempuh pendapat masing-masing dan bertahan dengan pendapat yang diyakininya.

Di kalangan Salafy Yamani dan sebagian ulama-ulama Salafy, baik di Yaman atau Timur Tengah pada umumnya ada istilah yang kerap dipakai untuk menyebut komunitas Salafy Haraki ini, yaitu Sururi atau Sururiyah. Dinamakan Sururi sebab tokoh yang dianggap menjadi perintis gerakan ini ialah Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin, seorang mantan tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) asal Syria yang pernah tinggal di Saudi. Muhammad Surur adalah pemimpin yayasan Al Muntada’ Al Islamy yang berpusat di London. Lembaga ini mengkoordinasikan majlis-majlis dakwah Salafiyah yang berpola pergerakan. Selain Muntada Al Islamy, ada organisasi serupa yang berpusat di Kuwait, yaitu Jum’iyyah Ihya’ut Turats Al Islamy, yang dipimpin oleh Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, seorang mantan tokoh IM juga. Salafy Haraki akhirnya identik dengan dua organisasi dakwah ini, meskipun di luar keduanya masih ada lembaga-lembaga lain yang juga menempuh metode serupa. Ciri khas mereka, yaitu menerima ajaran-ajaran Salafiyah dan menerapkan pola pergerakan dalam dakwahnya.

Perselisihan antara kelompok Salafy Yamani dengan Haraki sangat tajam. Pihak Yamani menyebut kelompok Haraki sebagai ahluk bid’ah sehingga berhak direndahkan serendah-rendahnya. Dalam tulisan yang berjudul Membongkar Kedustaan Abdurrahman At Tamimi AL Kadzab(dimuat oleh situs http://www.salafy.or.id), Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al Malanji mengutip pendapat ulama Salaf tentang cara memperlakukan ahlul bid’ah. Berikut kutipannya: “Mereka (Ulama Salaf) bersepakat dengan itu semua atas ucapan untuk bersikap keras terhadap ahlul bid’ah, merendahkan, menghinakan, menjauhkan, memutuskan hubungan dengan mereka, menjauhi mereka, tidak berteman dan bergaul dengan mereka, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan menghindar dan memboikot mereka.” (Aqidatus Salaf Ashhabil Hadits, hal 123). Dalam praktik, sikap seperti ini benar-benar diterapkan oleh Salafy Yamani terhadap para Salafy Haraki.

Sedangkan pihak Haraki, mereka juga membela diri. Diantaranya seperti yang disebutkan oleh Mubarak BM. Bamuallim, LC. Dalam buku yang dia susun, Biografi Syaikh Al Albani: Mujaddid dan Ahli Hadits Abad Ini, halaman 187, bagian catatan kaki. Disana Bamuallim menulis: “Sebagaimana yang terjadi di negeri ini (Indonesia), munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian Salafiyah, memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namun hakikatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal’iyadzubillah, kami memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari nasib serupa.”

Sejak awal tahun 80-an, terjadi perkembangan dakwah yang berbeda di Indonesia. Saat itu mulai berdatangan elemen-elemen pergerakan dakwah Islam dari luar negeri ke Indonesia. Kebetulan, jika merunut sejarah, tahun 70-an merupakan tahun “Internasionalisasi” bagi jamaah-jamaah dakwah tertentu. Di tahun 80-an itu mulai muncul kelompok-kelompok dakwah, seperti Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin), Jamaah Tabligh (T), Hizbut Tahrir (HT), Jamaah Islamiyyah (JI), kelompok lokal seperti NII, Pesantren Hidyatullah, dll. Kelompok Salafiyah termasuk unik, sebab mereka masuk setelah jamaah-jamaah tersebut. Tetapi dari akar sejarah di Indonesia sebenarnya ajaran Salafiyah telah masuk sejak lama. Perjuangan tokoh-tokoh Islam di Sumatera Barat,Seperti Tuanku Imam Bonjol dan Kaum Paderi dalam menentang kolonial Belanda pada awal abad 19, merupakan pengaruh langsung dari dakwah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Dar’iyah, Arab Saudi.

Pengaruh dakwah Salafiyah itu kemudian berpengaruh secara relatif ke organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Al Irsyad, Persatuan Islam dan lain-lain. Begitu pula dengan istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang diangkat oleh NU, hal itu tidak lepas dari usaha organisasi tersebut untuk membendung pengaruh dakwah Salafiyah Syaikh Abdul Wahhab yang sebelumnya telah mengangkat istilah itu.

Adapun gerakan dakwah Salafy Yamani dan Haraki, keduanya masuk ke Indonesia lebih belakangan. Salafy Haraki lebih dulu masuk, kemudian Salafy Yamani. Salafy Yamani dikenal dengan tokoh perintisnya yang di kemudian hari menjadi Panglima Laskar Jihad, yaitu Ustadz Ja’far Umar Thalib. Ustadz Ja’far ini semula bergabung dengan pihak Haraki. Hal itu dapat dibuktikkan ketika dia menulis artikel di majalah As Sunnah, milik kalangan Haraki. Di majalah As-Sunnah No.04/th.1/Sya’ban-Ramadhan 1413 H, Ja’far Umar menulis artikel berjudul Pokok-Pokok Memahami Ikhtilaful Ummah, hal. 10-17.

Dalam salah satu bagian artikel itu, Ja’far Umar menulis. “Jadi bagi yang ingin membaca penelitian Syeikh Salman (Salman Al Audah), silahkan baca buku aslinya dalam bahasa Arab. Buku ini cukup membantah keterangan Dr. Yusuf Qardhawi dan orang-orang yang semacamnya yang mendhaifkan hadits ini atau menolaknya.” (Hal. 13) penjelasan Ja’far Umar itu akan terasa aneh jika kemudian kita tahu betapa besar kebencian dan murid-muridnya di Indonesia terhadap Salman Al Audah. Bahkan Salman Al Audah ini sering sekali disebut-sebut oleh Salafy Yamani sebagai tokoh Besar di balik Salafy Haraki, bersama Syaikh Shalih Al Munajjid, Safar Al Hawali, Aidh Al Qarni, dll.

Sampai As Sunnah Edisi 15/th. II, di sana masih memuat tulisan Muhammad bin Umar As Sewed berjudul Ancaman Bagi yang Berbicara Masalah Dien dengan Menggunakan Ra’yu (Hal. 23-28), bersebelahan dengan tulisan Abdurrahmah At Tamimi, tokoh penting Al Irsyad Al Islamy di Jawa Timur yang sangat tidak disukai oleh Salafy Yamani. Di kemudian hari setelah Ja’far Umar ditinggalkan oleh komunitas Salafy Yamani, As Sewed naik menggantikan posisinya.

Pada awalnya, Salafy Yamani ikut bergabung dengan majalah As Sunnah, tetapi tahun 1995 mereka mengadakan majalah sendiri dengan nama Salafy. Masih dari majalah As Sunnah edisi 15/th. II, di sanadisebutkan ucapan selamat atas terbutnya majalah Salafy. Berikut ucapannya: “Seluruh Kerabat Kerja Majalah As Sunnah mengucapkan: Selamat atas terbitnya Majalah Salafy. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan dan kemudahan dalam mengajak umat kepada manhaj Salaf ash Shalih.” (Hal. 20). Hal ini menjadi bukti lainnya bahwa semula antara Salafy Yamani dan Haraki terdapat hubungan baik.

Sejak munculnya majalah Salafy suasana dakwah di Indonesiaterasa mulai memanas, sebab majalah ini begitu keras dalam menentang dan menyerang kelompok-kelompok Islam yang dinilai menyimpang. Sebenarnya majalah As Sunnah juga bersikap keras, tetapi tidak sekeras Salafy. Pihak yang paling banyak diserang oleh majalah Salafy ialah Ikhwanul Muslimin (IM) dan tokoh-tokohnya seperti Hasan Al banna, Yusuf Qardhawi, Sayyid Quthb, Hasan Turabi, dll. Kalau membaca majalah Salafy, nuansa konfliknya segera terasa. Mungkin, hal itu dianggap sebagai aplikasi sikap keras terhadap ahlul bid’ah.

Yang tidak dapat ditemukan dari sikap Ja’far Umar dan ustadz-ustadz di kalangan Salafy Yamani ialah sikap hikmah. Mereka menyerang dengan keras, seolah orang-orang yang diserang itu bukan manusia, sehingga tidak perlu diperhitungkan perasaannya. Sebagai perbandingan, jika ada orangtua musyrik yang memerintahkan anak-anaknya berbuat kemusyrikan, maka anak-anaknya dilarang mentaati perintah itu, tetapi mereka tetap diperintahkan tetap bersikap baik kepada keduanya. Tetapi mengapa ketika terhadap sesama saudara muslim mereka halal menghina, merendahkan bahkan mengkafirkan?

Seperti sekitar awal 1996 melalui majalah Salafy, Ja’far Umar melontarkan celaan yang sangat besar terhadap Yusuf Al Qardhawi. Di sana Ja’far menyebut Qardhawi sebagai Aduwwullah (Musuh Allah) dan Yusuf Al Quraizhi ( Yusuf dari suku Quraizhah Yahudi Madinah). Kedua sebutan ini tentu konsekuensinya ialah mengkafirkan Yusuf Al Qardhawi. Ini adalah contoh sikap berlebihan Ja’far Umar dan para pengikutnya. Kemudian beliau berkonsultasi dengan gurunya, Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i di Yaman, tentang kedua sebutan itu. Ternyata, guru beliau ini juga menganggap sebutan itu keliru, lalu beliau menetapkan sebutan lain yang menurutnya lebih baik, yaitu Yusuf Al Qaradha (Yusuf Sang Penggunting, maksudnya menggunring Sunnah Syariah Islam). Akhirnya, Ja’far Umar secara sportif mengakui bahwa sebutan yang dia tetapkan tidak adil dan hal itu dimuat di Salafy edisi selanjutnya, (Salafy, edisi 3/Syawal 1416, 1996).

Diambil dari:

http://kupretist.multiply.com/tag/inside%20salafy

Berikut adalah kutipan nasehat dari Syaikh DR. Aidh Abdullah Al Qarni (pengarang buku La Tahzan), yang dimuat di majalah Tarbawi edisi no 207, tanggal 9 Juli 2009.

Nasehat ini ditujukan kepada orang-orang yang mengaku “berada di atas manhaj salaf”.

Silakan menyimak.

—–

Kata-kata adalah Amanah
Oleh DR. Aidh Abdullah Al Qarni
Majalah Tarbawi, edisi 209, 9 Juli 2009

Syariat Islam kita memerintahkan kita wajib mengevaluasi diri, tentang apa yang telah terucap dan apa yang kita tulis. Sebab, apa yang kita ucapkan itu termasuk dari perbuatan kita. Ada orang yang mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa dilandasi ilmu. Ia mengeluarkan pendapat dan berfatwa dalam urusan agama dengan kebodohan. Berbicara tentang masalah aqidah dan ibadah tanpa kehati-hatian dan tanpa sikap wara’. Menurut dirinya, apa yang dilakukannya itu benar, dan apa yang dilakukan orang lain itu pasti salah. Bila engkau setuju dengan fatwa yang dikeluarkannya, engkau akan dikatakan sebagai orang yang baik dan benar. Tapi bila engkau berbeda pendapat dengannya, engkau akan dikatakan sebagai sesat dan menyesatkan.

Ia mengatakan apapun yang ingin dikatakan. Mengucapkan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Bila mungkin, ia tuangkan apa yang ia ucapkan itu pada situs internet. Isinya adalah cacian dan kemarahan yang tidak pantas dilakukan kecuali oleh manusia yang tidak lagi memiliki akal dan begitu menyakitkan. Ia tidak menganggap ada Allah swt yang mengawasi dan menghitung apa yang dikerjakannya. Ia hanya mencaci dan menghina, menyatakan sesat dan mengatakan orang fasiq, mengklaim orang sebagai ahli bid’ah, atau bahkan orang kafir yang sama sekali tidak memiliki kebaikan. Ia tidak mengakui kebenaran dan tidak memandang sisi positif apapun. Ia sama sekali tidak bangga dengan kebaikan orang lain, melainkan hanya bekerja mengumpulkan kesalahan demi kesalahan, kekeliruan demi kekeliruan pihak lain. Bahkan, terkesan senang dengan kesalahan orang lain.

Di antara bahaya yang paling berat bagi ummat ini, adalah ketika ada orang yang berbicara tanpa etika, berfatwa tentang sesuatu tanpa pendalaman kasus, menyampaikan sesuatu yang tidak dipahami orang, dan cenderung mengeksploitir kekurangan dan kesalahan orang lain, untuk menjatuhkan dan menghinakannya. Ia mempunyai sensitifitas tinggi dalam mengail kesalahan orang.

Jika mendengar ada seseorang dipuji, ia lebih ingin mengatakan bahwa pada diri orang yang dipuji itu ada kekeliruan ini dan itu. Ia melihat sisi gelap dari pihak lain, dalam bicaranya. Memelihara kesalahan orang lain yang mungkin sedikit. Pemerintah dalam pandangannya semua adalah kejam dan zalim. Para ulama dalam pandangannya, semua adalah orang-orang yang mecari muka. Para juru dakwah, dalam pandangannya, semuanya adalah para pemburu dunia. Para mahasiswa yang tengah mendalami ilmu agama, dalam pandangannya, semuanya gagal. Masyarakat yang menjalani agama, menurutnya, semuanya bodoh. Para pengusaha, menurutnya, semua pelaku riba. Para penyair, dalam pandangannya, semuanya pendusta.

Sedangkan dirinya, dalam pandangannya, adalah orang yang paling zuhud di zamannya. Manusia langka di zamannya yang mendapat dukungan Allah swt, dalam pandangannya. Ialah yang bertugas menghakimi kesalahan dan memberi petunjuk orang yang dianggap salah. Ialah yang menyesatkan orang selain dirinya karena kesalahan yang mungkin diampuni oleh Allah swt. Ialah yang paling sedikit kesalahan dan kekurangannya. Jika dikatakan kepadanya, “Bagaimanakah sikap kita saat ini dibandingkan dengan sikap Rasulullah saw yang lemah lembut?“, Ia menjawab, “Bagaimana sikapmu dibandingkan dengan sikap para ulama salaf seperti Ibnu Mubarak atau penerus ulama salaf seperti Abdullah bin Baz?“. Padahal, seharusnya ia bisa melihat bagaimana peri hidup dua ulama besar itu yang sangat berlapang dada, baik dan sopan dalam ucapannya, lemah lembut bersikap terhadap orang lain, rendah hati terhadap hamba-hamba Allah, jauh dari perilaku ghibah membicarakan aib dan kekurangan orang lain. Peri hidup mereka bersih, bening, dipercaya, dan bisa diterima oleh banyak orang, baik orang awam maupun khusus.

Tambahan dari saya (e0d0i),
Tidak semua warga salafy bersikap seperti yang di atas itu.
Tapi memang ada sebagian yang bersikap seperti itu, dan itu adalah realita yang buktinya bisa dilihat di mana-mana.
Semoga artikel ini bisa menjawab pertanyaan warga salafy yang sering menanyakan, “Apa bedanya antara tegas dan kasar dalam bersikap?”
Mudahnya, contoh “sikap kasar” yang sering ditemukan pada beberapa warga salafy adalah sikap yang telah dijelaskan oleh Syaikh Aidh Abdullah Al-Qarni di atas.