Inti dakwah Islam adalah Al-Qur’an.
Setelah itu, inti dakwah Islam adalah Hadits nabi.

Di dalam al-Qur’an sendiri, ada banyak ayat yang tidak jelas maknanya. Ayat-ayat ini disebut ayat-ayat mutasyaabihat. Dan prinsip dakwah yang benar tentang ayat-ayat ini adalah “tidak membesar-besarkan hal tersebut”.

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. …. ”  (QS. Ali Imraan ayat 7)

Maka, inti dasar agama Islam itu ada di ayat-ayat muhkamat, yaitu ayat-ayat yang jelas.
Juga, inti agama islam itu ada pada hadits-hadits nabi yang shahih, dan tidak multi-tafsir.
Mari kita pelajari Islam melalui dakwah yang benar, yaitu dakwah yang mengutamakan ayat-ayat yang muhkamat, hadits-hadits yang muhkamat, dan tidak memprioritaskan hal-hal lainnya.

Dahulu, salah seorang Tabi’in bernama Sa’id bin al-Musayyaf ra melarang murid-muridnya mencatat penjelasan pengajiannya, karena khawatir memalingkan masyarakat dari Al-Qur’an. Pada suatu kesempatan, beliau merobek catatan salah seorang muridnya dan berkata dengan nada marah, “Engkau perhatikan ucapanku dengan penuh seksama dan kau tinggalkan Al-Qur’an, lalu kemana-mana kamu akan mengatakan, “Menurut Sa’id begini …. begitu!”

Maka, kalau kita menjumpai sebagian ummat Islam yang tidak mengutamakan ayat-ayat muhkamat, dan tidak mengutamakan hadits-hadits yang muhkamat pula, tapi malah mengutamakan ayat-ayat yang mutasyaabihat atau hadits-hadits yang multi-tafsir, lalu mencari-cari takwil-nya, lalu menyalahkan kelompok lain dengan alasan  “karena syaikh anu bin anu bin anu telah berkata demikian” …. maka sesungguhnya “sebagian ummat islam” ini telah terjatuh dalam pola dakwah yang tidak benar.