Atas berbagai cara keras yang ditempuh Ja’far Umar dan para koleganya itu, ia menyulut kemarahan salah seorang tokoh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy yang ditugaskan di Indonesia. Dia adalah Syarif bin Muhammad Fuad Hazza salah seorag dai Ihyaut Turats dari Kuwait yang ditugaskan mengajar di Pesantren Al Irsyad Tengaran Salatiga, Jawa Tengah. Jum’iyyah Ihyaut Turats sendiri oleh Salafy Yamani dimasukkan dalam kategori gerakan dakwah yang dikembangkan oleh Ja’far Umar, terutama melalui majalah Salafy. Kemudian atas inisiatifnya sendiri, Syarif Hazza menyebarkan selebaran berjudul Penjelasan dan Ajakan, yang diterjemahkan oleh Yusuf Utsman Baisa, pimpinan Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga. Inti selebaran itu ialah mengajak Ja’far Umar melakukan mubahalah (perang doa) agar Allah melaknati salah satu dari keduanya yang terbukti sebagai pendusta.
Berikut ini sebagian pernyataan Syarif Hazza: “Dan semenjak saya datang hingga saat ini saya selalu mendengar tentang saudara Ja’far Thalib dan gerakan dakwahnya, saya dengar dan diterjemahkan untuk saya apa yang disebarkan oleh majalah “Salafy”. Saya dapati bahwa orang ini bodoh tentang madzhab Salaf, bahkan juga dalam hal ajaran Islam secara umum, tidak heran karena hal ini telah dikhabarkan oleh Nabi Muhammad saw tentang akan munculnya para pemimpin yang bodoh. Saya pergi berziarah padanya di bulan Ramadhan 1416 H bersama 4 orang guru pesantren Al Irsyad, saya menasehati agar dia meninggalkan kebiasaannya dalam melecehkan orang, mencaci, mencerca, dan menggolongkan orang dalam golongan-golongan, saya jelaskan padanya tentang haramnya hal ini beserta dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah, dan kami berpisah dalam keadaan berbaikan. Tadinya saya menyangka dia akan berhenti dan bertaubat, kemudian saya dapati pada edisi kedua majalah Salafy, beberapa perkara yang bertentangan dengan Manhaj As Salafus Shalih, penafsiran ayat bukan semestinya dan menisbatkan beberapa pemikirannya seabgai keyakinan As Salaf.” (Penjelasan dan Ajakan, hal.1, 26 Mei 1996).
Di bagian selanjutnya Syarif Hazza menulis: “Kemudian orang dekatnya melecehkan saya dan menggolongkan saya seenak dustanya kepada orang-orang, maka saya hubungi dia dengan telepon umum namun tidak ada, kemudian saya hubungi orang dekatnya (Muhammad As Sewed), juga tidak ada, kemudian pada hari Ahad 8 Muharram 1417 H bertepatan dengan 26 Mei 1996, saya hubungi juga dengan telepon, namun dia mencaci dan memaki serta menuduh saya dengan tuduhan yang Allah Maha Tahu bahwa saya terlepas dari hal ini, maka saya balasi dengan apa yang dia berhak mendapatkannya.” (Penjelasan dan Ajakan, hal. 2).
Mubahalah itu pun akhirnya terjadi antara dua orang tokoh dakwah Islam, yaitu Ja’far Umar (Salafy Yamani) dan Syarif Muhammad Hazza (Ihyaut Turats Kuwait). Bagi masing-masing pelakunya, mungkin mubahalah itu merupakan amal Shalih yang sangat agung. Tetapi bagi kaum Muslimin secara umum yang melihat peristiwa itu, menganggapnya sebagai musibah besar bagi dakwah Islam. Betapa tidak, dua orang sama-sama Muslim, sama-sama Dai, sama-sama berilmu, saling berdoa agar Allah melaknati lawan-lawannya dan keluarga mereka sekalian. Padahal syariat mubahalah itu sendiri pada asalnya ditujukan sebagai solusi terakhir jika orang-orang Ahli Kitab tetap keras kepala dengan kesesatannya (QS. Ali Imran, 61).
Setelah peristiwa mubahalah itu, pihak Ja’far Umar menyusun “buku putih” untuk menjelaskan duduk perkara perselisihan di antara mereka, sekaligus menjelaskan kronologis peristiwa mubahalah itu. Kalau tidak salah judul bukunya yaitu Membantah Tuduhan Menjawab Tantangan. Selanjutnya hubungan antara Salafy Yamani dan Haraki semakin buruk, konflik pandangan di antara keduanya semakin menajam. Pertentangan antara syaikh-syaikh di Timur Tengah ternyata diikuti oleh pertentangan serupa antara ustadz-ustadz dan para pemuda Salafiyin di Indonesia. Kenyataan ini sungguh memprihatinkan, seolah hanya meng-copy paste konflik yang ada di Timur Tengah, lalu menumbuhkembangkannya di Indonesia. Alangkah jauhnya gambaran dakwah seperti itu dengan metode dakwah yang dipesankan Rasulullah saw kepada Mu’adz bin Jabal ra. Sebelum beliau bertolak ke Yaman. Seharusnya yang menjadi prioritas dakwah adalah penyebaran hikmah ilmu, bukan praktik konflik.
Pertengahan tahun 1997 terjadi krisis Moneter di Indonesia yang diikuti Krisis Ekonomi dan krisis-krisis lain. Krisis telah menyadarkan berbagai pihak bahwa Indonesia sedang berhadapan dengan permasalahan besar. Akibat krisis ini, banyak media-media Islam gulung tikar. Setelah krisis, majalah Salafy seolah tenggelam. Mungkin, akibat krisis biaya cetak majalah membengkak, sedangkan permodalan belum siap menghadapi perubahan secepat itu. Sementara itu anggota Salafy Haraki, mereka mulai membaca media-media umum, mencermati perkembangan informasi terbaru, padahal semula mereka menjauhi media-media itu. Secara umum iklim yang muncul di Indonesia ketika itu ialah semangat reformasi, yaitu semangat melakukan perubahan untuk mengakhiri era status quo Orde Baru. Sebagian besar perhatian masyarakat lebih tertuju ke persoalan kesulitan ekonomi dan melakukan perubahan di kalangan umat Islam untuk mengekspresikan ideologi dan pilihan politik masing-masing. Maka dari itu muncul partai-partai Islam, organisasi-organisasi Islam, bahkan pembicaraan tentang DI/NII dan Kartosoewirjo yang semulai dilarang, kemudian menjadi begitu bebasnya. Jamaah-jamaah dakwah Islam yang semula bergerak underground, mereka mulai berani tampil di permukaan. Reformasi seperti membedah harta karun semangat pergerakan dan berorganisasi di kalangan umat Islam Indonesia.
Semangat unjuk gigi dan kekelompokan itu sepertinya cukup mengganggu ketentaraman hati para Salafy Yamani. Seorang mereka merasa ketinggalan jika tidak ikut dalam euphoria politik yang ada. Tanggal 14 Februari 1998 dalam acara tabligh akbar di Solo, Ja’far Umar mendirikan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah (FKAWJ). Forum ini tidak jauh beda dengan kelompok kepartaian yang semula sangat mereka musuhi. Salafy Yamani sangat tidak rela dengan kelompok-kelompok fanatik. Dimanapun mereka menjumpai kelompok fanatik, mereka akan diingkarinya dengan keras.
Dalam hal ini mereka tentu paham dengan buku yang ditulis Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, yaitu Jamaah Wahidah Laa Jamaat, Wa Shiratu Wahid Laa Asyraat (Satu Jamaah Bukan Banyak Jamaah, Satu Jalan Bukan Banyak Jalan). Buku ini merupakan bantahan terhadap metode pergerakan yang ditempuh oleh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy dan Jamaah-Jamaah Islam. Tetapi kenyataannya, Salafy Yamani juga membentuk kelompok yang sama, yaitu FKAWJ. Namanya forum komunikasi, tetapi hakikat dan praktiknya serupa dengan organisasi-organisasi lain. Di sana ada pimpinan formal, aturan internal, dewan pengurus pusat (DPP), dewan pengurus wilayah, identitas khas, dll. FKAWJ dengan tokoh sentralnya, Ja’far Umar Thalib, di kemudian hari terlibat berbagai perkara yang sebelumnya mereka ingkari misalnya fotografi, wawancara dengan wartawan, konferensi pers, aksi-aksi publik beropini atas peristiwa-peristiwa politik, dll.
Diambil dari:

Atas berbagai cara keras yang ditempuh Ja’far Umar dan para koleganya itu, ia menyulut kemarahan salah seorang tokoh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy yang ditugaskan di Indonesia. Dia adalah Syarif bin Muhammad Fuad Hazza salah seorang dai Ihyaut Turats dari Kuwait yang ditugaskan mengajar di Pesantren Al Irsyad Tengaran Salatiga, Jawa Tengah. Jum’iyyah Ihyaut Turats sendiri oleh Salafy Yamani dimasukkan dalam kategori gerakan dakwah yang dikembangkan oleh Ja’far Umar, terutama melalui majalah Salafy. Kemudian atas inisiatifnya sendiri, Syarif Hazza menyebarkan selebaran berjudul Penjelasan dan Ajakan, yang diterjemahkan oleh Yusuf Utsman Baisa, pimpinan Pesantren Islam Al Irsyad Salatiga. Inti selebaran itu ialah mengajak Ja’far Umar melakukan mubahalah (perang doa) agar Allah melaknati salah satu dari keduanya yang terbukti sebagai pendusta.

Berikut ini sebagian pernyataan Syarif Hazza: “Dan semenjak saya datang hingga saat ini saya selalu mendengar tentang saudara Ja’far Thalib dan gerakan dakwahnya, saya dengar dan diterjemahkan untuk saya apa yang disebarkan oleh majalah “Salafy”. Saya dapati bahwa orang ini bodoh tentang madzhab Salaf, bahkan juga dalam hal ajaran Islam secara umum, tidak heran karena hal ini telah dikhabarkan oleh Nabi Muhammad saw tentang akan munculnya para pemimpin yang bodoh. Saya pergi berziarah padanya di bulan Ramadhan 1416 H bersama 4 orang guru pesantren Al Irsyad, saya menasehati agar dia meninggalkan kebiasaannya dalam melecehkan orang, mencaci, mencerca, dan menggolongkan orang dalam golongan-golongan, saya jelaskan padanya tentang haramnya hal ini beserta dalilnya dari Al Qur’an dan As Sunnah, dan kami berpisah dalam keadaan berbaikan. Tadinya saya menyangka dia akan berhenti dan bertaubat, kemudian saya dapati pada edisi kedua majalah Salafy, beberapa perkara yang bertentangan dengan Manhaj As Salafus Shalih, penafsiran ayat bukan semestinya dan menisbatkan beberapa pemikirannya seabgai keyakinan As Salaf.” (Penjelasan dan Ajakan, hal.1, 26 Mei 1996).

Di bagian selanjutnya Syarif Hazza menulis: “Kemudian orang dekatnya melecehkan saya dan menggolongkan saya seenak dustanya kepada orang-orang, maka saya hubungi dia dengan telepon umum namun tidak ada, kemudian saya hubungi orang dekatnya (Muhammad As Sewed), juga tidak ada, kemudian pada hari Ahad 8 Muharram 1417 H bertepatan dengan 26 Mei 1996, saya hubungi juga dengan telepon, namun dia mencaci dan memaki serta menuduh saya dengan tuduhan yang Allah Maha Tahu bahwa saya terlepas dari hal ini, maka saya balasi dengan apa yang dia berhak mendapatkannya.” (Penjelasan dan Ajakan, hal. 2).

Mubahalah itu pun akhirnya terjadi antara dua orang tokoh dakwah Islam, yaitu Ja’far Umar (Salafy Yamani) dan Syarif Muhammad Hazza (Ihyaut Turats Kuwait). Bagi masing-masing pelakunya, mungkin mubahalah itu merupakan amal Shalih yang sangat agung. Tetapi bagi kaum Muslimin secara umum yang melihat peristiwa itu, menganggapnya sebagai musibah besar bagi dakwah Islam. Betapa tidak, dua orang sama-sama Muslim, sama-sama Dai, sama-sama berilmu, saling berdoa agar Allah melaknati lawan-lawannya dan keluarga mereka sekalian. Padahal syariat mubahalah itu sendiri pada asalnya ditujukan sebagai solusi terakhir jika orang-orang Ahli Kitab tetap keras kepala dengan kesesatannya (QS. Ali Imran, 61).

Setelah peristiwa mubahalah itu, pihak Ja’far Umar menyusun “buku putih” untuk menjelaskan duduk perkara perselisihan di antara mereka, sekaligus menjelaskan kronologis peristiwa mubahalah itu. Kalau tidak salah judul bukunya yaitu Membantah Tuduhan Menjawab Tantangan. Selanjutnya hubungan antara Salafy Yamani dan Haraki semakin buruk, konflik pandangan di antara keduanya semakin menajam. Pertentangan antara syaikh-syaikh di Timur Tengah ternyata diikuti oleh pertentangan serupa antara ustadz-ustadz dan para pemuda Salafiyin di Indonesia. Kenyataan ini sungguh memprihatinkan, seolah hanya meng-copy paste konflik yang ada di Timur Tengah, lalu menumbuhkembangkannya di Indonesia. Alangkah jauhnya gambaran dakwah seperti itu dengan metode dakwah yang dipesankan Rasulullah saw kepada Mu’adz bin Jabal ra. Sebelum beliau bertolak ke Yaman. Seharusnya yang menjadi prioritas dakwah adalah penyebaran hikmah ilmu, bukan praktik konflik.

Pertengahan tahun 1997 terjadi krisis Moneter di Indonesia yang diikuti Krisis Ekonomi dan krisis-krisis lain. Krisis telah menyadarkan berbagai pihak bahwa Indonesia sedang berhadapan dengan permasalahan besar. Akibat krisis ini, banyak media-media Islam gulung tikar. Setelah krisis, majalah Salafy seolah tenggelam. Mungkin, akibat krisis biaya cetak majalah membengkak, sedangkan permodalan belum siap menghadapi perubahan secepat itu. Sementara itu anggota Salafy Haraki, mereka mulai membaca media-media umum, mencermati perkembangan informasi terbaru, padahal semula mereka menjauhi media-media itu. Secara umum iklim yang muncul di Indonesia ketika itu ialah semangat reformasi, yaitu semangat melakukan perubahan untuk mengakhiri era status quo Orde Baru. Sebagian besar perhatian masyarakat lebih tertuju ke persoalan kesulitan ekonomi dan melakukan perubahan di kalangan umat Islam untuk mengekspresikan ideologi dan pilihan politik masing-masing. Maka dari itu muncul partai-partai Islam, organisasi-organisasi Islam, bahkan pembicaraan tentang DI/NII dan Kartosoewirjo yang semulai dilarang, kemudian menjadi begitu bebasnya. Jamaah-jamaah dakwah Islam yang semula bergerak underground, mereka mulai berani tampil di permukaan. Reformasi seperti membedah harta karun semangat pergerakan dan berorganisasi di kalangan umat Islam Indonesia.

Semangat unjuk gigi dan kekelompokan itu sepertinya cukup mengganggu ketentaraman hati para Salafy Yamani. Seorang mereka merasa ketinggalan jika tidak ikut dalam euphoria politik yang ada. Tanggal 14 Februari 1998 dalam acara tabligh akbar di Solo, Ja’far Umar mendirikan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah (FKAWJ). Forum ini tidak jauh beda dengan kelompok kepartaian yang semula sangat mereka musuhi. Salafy Yamani sangat tidak rela dengan kelompok-kelompok fanatik. Dimanapun mereka menjumpai kelompok fanatik, mereka akan diingkarinya dengan keras.

Dalam hal ini mereka tentu paham dengan buku yang ditulis Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, yaitu Jamaah Wahidah Laa Jamaat, Wa Shiratu Wahid Laa Asyraat (Satu Jamaah Bukan Banyak Jamaah, Satu Jalan Bukan Banyak Jalan). Buku ini merupakan bantahan terhadap metode pergerakan yang ditempuh oleh Jum’iyah Ihyaut Turats Al Islamy dan Jamaah-Jamaah Islam. Tetapi kenyataannya, Salafy Yamani juga membentuk kelompok yang sama, yaitu FKAWJ. Namanya forum komunikasi, tetapi hakikat dan praktiknya serupa dengan organisasi-organisasi lain. Di sana ada pimpinan formal, aturan internal, dewan pengurus pusat (DPP), dewan pengurus wilayah, identitas khas, dll. FKAWJ dengan tokoh sentralnya, Ja’far Umar Thalib, di kemudian hari terlibat berbagai perkara yang sebelumnya mereka ingkari misalnya fotografi, wawancara dengan wartawan, konferensi pers, aksi-aksi publik beropini atas peristiwa-peristiwa politik, dll.

Diambil dari:

http://kupretist.multiply.com/tag/inside%20salafy