Washil bin Atha’ (699-748M), pemimpin aliran Mu’tazilah, suatu ketika bersama rombongannya memasuki daerah yang didominasi oleh kelompok Khawarij, suatu kelompok ekstrim yang sering mengkafirkan sesama muslim, bahkan tidak segan membunuh sesama muslim. Semboyan kelompok Khawarij ini adalah “Tiada hukum kecuali dari Allah”.

Ketika tiba di daerah tersebut, rombongan Washil bin Atha’ gelisah. Namun dengan tenang Washil tampil sambil berkata: “Perlakukanlah kami sesuai petunjuk Allah dalam Al-Qur’an!”

Kelompok Khawarij bertanya, “Siapa kalian?”

Washil menjawab, “Kami adalah orang-orang musyrik.”

Kelompok ekstrim itu menyadari bahwa Al-Qur’an menegaskan:
“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. ” (QS At-Taubah ayat 6)

Benar juga dugaan Washil. Mereka lalu diterima, bahkan dilindungi dan dijamu, kemudian diantar ke tempat tujuan.

(Quraish Shihab, Lentera Hati).

Saat ini, kalau kita mengaku bahwa kita memasuki parlemen itu untuk tujuan berdakwah, biasanya ada saja kelompok yang merasa kebakaran jenggot.
Tapi kalau kita mengaku bahwa masuknya kita ke dalam parlemen itu adalah dalam rangka mencari nafkah dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan dakwah, biasanya kita tidak akan dibid’ah-bid’ahkan lagi.

Benar, kadang-kala kita bisa menggunakan jawaban yang cerdas untuk meredam sikap-sikap ekstrim dari kelompok yang memang ekstrim.