Salah satu alasan yang sering digunakan oleh kelompok anti partai untuk menyalahkan dakwah politik adalah, karena keberadaan partai-partai itu identik dengan fanatisme yang berlebihan terhadap masing-masing partai. Dan mereka juga menyebutkan bahwa atribut Islam yang menempel pada satu atau beberapa partai yang ada, biasanya digunakan sebagai modal untuk mencari suara. Dengan kata lain, Islam dijadikan komoditi atau barang dagangan untuk bisa mendapatkan kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok.

Padahal, ini adalah sudut pandang yang su’udzhon.

Kalau atribut Islam yang menempel pada partai-partai Islam adalah sudah pasti merupakan barang dagangan yang digunakan untuk meraih kepentingan pribadi atau kelompok, maka bagaimana dengan partai Islam yang menyuarakan aspirasi ummat di parlemen ?
Apakah mereka juga sedang mencari muka untuk diri mereka dan partai mereka ?

Bagaimana pula dengan atribut Islam lainnya di parlemen, seperti pengucapan salam saat memulai rapat ?
Apakah pelakunya akan kita katakan sebagai orang yang “sedang mencari muka dengan cara mengucapkan salam di muka umum” ?

Kalau kita memang setuju dengan pola pikir su’udzhon ini, disadari atau tidak, ini artinya kita setuju bahwa semua atribut Islam harus hilang dari partai-partai, dan semua atribut Islam juga harus hilang dari parlemen kita. Persis seperti proses sekularisasi di Turki dahulu. Bedanya, di Turki hal-hal yang berbau Islam dianggap ketinggalan zaman, sementara di Indonesia, menurut kelompok yang su’udzhon ini, Islam sudah pasti dijadikan barang dagangan untuk meraih kepentingan pribadi. Meskipun alasannya beda, tapi hasilnya sama: mendukung sekularisasi.

Benar, ini adalah pola pikir su’udzhon,
meskipun kadang kala dibungkus dengan alasan-alasan yang terlihat islami.