Dahulu, Rasulullah saw memperjuangkan Islam dari nol.
Ketika Islam mulai memasuki masa-masa jaya di Madinah, beliau memproklamirkan berdirinya sebuah pemerintahan Islam, dan bukan kerajaan Bani Muhammad, Bani Abdul Muthallib, Bani Hasyim, Bani Quraisy, atau lainnya.

Pada abad 18 masehi, sejarah kerajaan Arab Saudi dimulai ketika Muhammad Ibnu Saud (penguasa Dir’iyyah) bergabung dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (seorang ulama) dan kemudian membentuk satu kekuatan baru di jazirah Arab.

Perjuangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri banyak disebut sebagai revolusi aqidah Islam.

Akan tetapi, hasil dari perjuangan tersebut adalah terbentuknya sebuah kerajaan, yaitu kerajaan Arab bani Saud, dan bukan sebuah kekhalifahan Islam.

Apakah akan kita katakan bahwa dakwah di Saudi adalah dakwah yang bersifat hizbiyyah karena menghasilkan kerajaan yang mengagung-agungkan keturunan rajanya ?
Ataukah akan kita katakan bahwa pembentukan kerajaan Saudi adalah suatu hal yang lumrah karena mendirikan kekhalifahan Islam yang membawahi seluruh muslim di dunia adalah satu hal yang sulit ?

Sepertinya, pertanyaan yang kedua lebih bisa diterima oleh akal yang jernih dan hati yang jujur.

Maka,
manakala perjuangan kita tidak bisa mencakup seluruh ummat Islam,
tidak ada salahnya kita membuat kelompok terlebih dahulu.
Tentunya, dengan syarat bahwa kelompok kita itu tidak kita yakini sebagai satu-satunya kelompok yang akan masuk surga. Cukup yakini saja bahwa keberadaan kelompok itu adalah satu hal yang bisa mendorong amal-amal kita.

Tapi kalau keberadaan kelompok di dalam ummat Islam dipukul rata sebagai suatu hal yang bid’ah, sesat dan menyesatkan,
maka seharusnya kita juga menggelari Saudi Arabia dan semua negara muslim lainnya sebagai ahli bid’ah, karena tidak mau membentuk satu kekhalifahan, dan malah membentuk negara masing-masing.

Sampai di sini, masih jernihkah akal kita dan masih jujurkah hati kita ?