Voting artinya menggunakan jumlah suara sebagai penentu dalam pengambilan keputusan.

Rasulullah dulu pun beberapa kali melakukan voting ketika harus memutuskan sesuatu.

Misalnya, ketika musyawarah menentukan sikap dalam menghadapi perang Uhud. Sebagian kecil shahabat punya pendapat sebaiknya bertahan di Madinah, namun kebanyakan shahabat, terutama yang muda-muda dan belum sempat ikut dalam perang Badar sebelumnya, cenderung ingin menyongsong lawan di medan terbuka.

Maka Rasulullah SAW pun memilih untuk mengikuti pendapat mayoritas, meski beliau sendiri tidak termasuk kelompok orang yang mendukungnya.

Maka bukan pada tempatnya bagi kita untuk menyatakan bahwa sistem voting itu bertentangan dengan ajaran Islam. Meski orang-orang kafir menggunakan sistem voting juga, namun tidak berarti kita meniru cara mereka. Buktinya, Rasulullah SAW sendiri pernah menjalankannya.

————————————-

Kisah voting Rasulullah saw dalam perang Uhud bisa dilihat di buku “Sirah Nabawiyah”, karangan Syaikh Shafiyyur-Rahman Al Mubarakfurry, pada bab tentang perang Uhud. Atau bisa lihat kutipan di bawah:

—-

Sekumpulan para shahabat yang tidak ikut serta dalam Perang Badr sebelumnya, mengusulkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar keluar dari Madinah. Bahkan mereka sangat ngotot dengan usulannya ini, sehingga ada di antara mereka yang berkata, “Wahai Rasulullah, sejak dulu kami sudah mengharapkan hari seperti ini dan kami selalu berdoa kepada Allah. Dia sudah menuntun kami dan tempat yang dituju sudah dekat. Keluarlah untuk menghadapi musuh-musuh kita, agar mereka tidak menganggap kita takut kepada mereka.”

Di antara tokoh kelompok yang sangat berantusias ini adalah Hamzab bin Abdul-Muthallib, paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang pada Perang Badr dia hanya menggantungkan pedangnya. Dia berkata kepada Beliau, “Demi yang menurunkan Al-Kitab kepada engkau, aku tidak akan memberi makanan sehingga membabat mereka dengan pedangku ini di luar Madinah.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabaikan pendapat beliau sendiri karena mengikuti pendapat mayoritas. Maka ditetapkan untuk keluar dari Madinah dan bertempur di kancah terbuka.