Tanggal 19 Januari 1999, tepatnya pada Hari Raya Idul Fitri, terjadi tragedi berdarah di Kota Ambon. Tragedi ini menyulut kemarahan besar umat Islam di tempat-tempat lain terutama yang ada di pulau Jawa. Umat Islam tidak akan membiarkan saudara-saudaranya di Ambon dianiaya oleh kaum Nasrani, maka mereka segera menurunkan kelompok-kelompok Jihad untuk melakukan pembelaan sekuat kemampuan. Berbagai kalangan Islam menurunkan kekuatannya, misalnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Partai Keadilan (PK), Wahdah Islamiyah Makassar, bahkan Jamaah Tabligh (JT) pun menurunkan kafilah-kafilah khurujnya kesana. Desember 1999 terjadi kembali tragedi berdarah di Maluku, khususnya di Tobelo, Maluku Utara. Tragedi ini tidak kalah besarnya dibandingkan tragedi Ambon.

Sebagai salah satu bentuk tanggapan kongkrit atas tragedi berdarah di provinsi Maluku tersebut, FKAWJ membentuk sebuah sayap militer yang dinamakan Laskar Jihad (LJ), pada tanggal 30 Januari 2000. Laskar Jihad mendaulat Ustadz Ja’far Umar Thalib sebagai panglimanya, sedang Ayip Syafrudin menjadi wakilnya sekaligus juru bicara Laskar Jihad. Seorang peneliti, Noorhaidi Hasan, secara ringkas menjelaskan hakikat Laskar Jihad: “Sebagai sayap para militer FKAWJ, Laskar Jihad mencerminkan struktur formal militer Indonesia terdiri dari Brigade, batalion, kompi peleton, dan regu, dan bahkan memiliki badan intelijen sendiri. Ditunjuk sebagai panglima Laskar Jihad, Thalib dengan didukung oleh sejumlah komandan lapangan, termasuk Ali Fauzi dan Abu Bakar Wahid al-Banjari.” (Dikutip Sukidi Mulyadi dari Faith and Politics: The Rise of Laskar Jihad in the Era of Transition in Indonesia, Noorhaidi Hasan, April 2002, hal. 159)
Kenyataannya memang seperti itu, Laskar Jihad bisa dikatakan sebagai kelompok perlawanan Islam yang paling sistematik. Mula-mula mereka menyebarkan pengumuman yang berisi ajakan terbuka kepada para pemuda Islam untuk datang ke Gelora Senayan Jakarta dan mempersiapkan jihad membela umat Islam di Ambon dan Maluku. Tanggal 6 April 2000, Laskar Jihad mengadakan pertemuan akbar di Senayan Jakarta. Mereka memakai pakaian ala Mujahidin, seperti gamis putih-putih selutut, sorban, sepatu, laras panjang, sabuk, ransel militer, dan tidak lupa membawa macam-macam senjata tajam. Selain itu mereka mendirikan pos-pos koordinasi di setiap kota, memiliki media sendiri yaitu buletin Al Wala’ Wal Bara’, Buletin Laskar Jihad, website http://www.laskarjihad.or.id, bahkan radio FM amatir Suara Perjuangan Muslim Maluku (SPMM). Dibandingkan kelompok-kelompok Jihad lainnya, Laskar Jihad tampak lebih sistematis dan kompleks.
Masih di awal april 2000, ratusan pasukan Laskar Jihad berdemo di depan istana negara memprotes kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Mereka berdemo dengan menyandang senjata tajam. Uniknya, pihak aparat keamanan seperti tidak berbuat apa-apa. Dalam kesempatan itu Ja’far Umar beserta beberapa tokoh lainnya masuk ke istana dan dia langsung menghardik Abdurrahman Wahid. Hal ini disebutkan dalam salah satu edisi majalah Sabili. Konon, belum pernah ada satu pun orang di Indonesia yang berani menghardik Abdurrahman Wahid dengan kata-kata “Sinting”, selain Ja’far Umar, kecual di masa-masa akhir seperti Habib Riziq Syihab. Bahkan dalam wawancara dengan Sabili, Ja’far Umar mengatakan bahwa Abdurrahman Wahid itu sudah kafir. Ja’far Umar mengklaim bahwa dia telah berkonsultasi dengan ulama-ulama di Timur Tengah tentang status kafirnya Abdurrahman Wahid.
Diambil dari:

Tanggal 19 Januari 1999, tepatnya pada Hari Raya Idul Fitri, terjadi tragedi berdarah di Kota Ambon. Tragedi ini menyulut kemarahan besar umat Islam di tempat-tempat lain terutama yang ada di pulau Jawa. Umat Islam tidak akan membiarkan saudara-saudaranya di Ambon dianiaya oleh kaum Nasrani, maka mereka segera menurunkan kelompok-kelompok Jihad untuk melakukan pembelaan sekuat kemampuan. Berbagai kalangan Islam menurunkan kekuatannya, misalnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Partai Keadilan (PK), Wahdah Islamiyah Makassar, bahkan Jamaah Tabligh (JT) pun menurunkan kafilah-kafilah khurujnya kesana. Desember 1999 terjadi kembali tragedi berdarah di Maluku, khususnya di Tobelo, Maluku Utara. Tragedi ini tidak kalah besarnya dibandingkan tragedi Ambon.

Sebagai salah satu bentuk tanggapan kongkrit atas tragedi berdarah di provinsi Maluku tersebut, FKAWJ membentuk sebuah sayap militer yang dinamakan Laskar Jihad (LJ), pada tanggal 30 Januari 2000. Laskar Jihad mendaulat Ustadz Ja’far Umar Thalib sebagai panglimanya, sedang Ayip Syafrudin menjadi wakilnya sekaligus juru bicara Laskar Jihad. Seorang peneliti, Noorhaidi Hasan, secara ringkas menjelaskan hakikat Laskar Jihad: “Sebagai sayap para militer FKAWJ, Laskar Jihad mencerminkan struktur formal militer Indonesia terdiri dari Brigade, batalion, kompi peleton, dan regu, dan bahkan memiliki badan intelijen sendiri. Ditunjuk sebagai panglima Laskar Jihad, Thalib dengan didukung oleh sejumlah komandan lapangan, termasuk Ali Fauzi dan Abu Bakar Wahid al-Banjari.” (Dikutip Sukidi Mulyadi dari Faith and Politics: The Rise of Laskar Jihad in the Era of Transition in Indonesia, Noorhaidi Hasan, April 2002, hal. 159)

Kenyataannya memang seperti itu, Laskar Jihad bisa dikatakan sebagai kelompok perlawanan Islam yang paling sistematik. Mula-mula mereka menyebarkan pengumuman yang berisi ajakan terbuka kepada para pemuda Islam untuk datang ke Gelora Senayan Jakarta dan mempersiapkan jihad membela umat Islam di Ambon dan Maluku. Tanggal 6 April 2000, Laskar Jihad mengadakan pertemuan akbar di Senayan Jakarta. Mereka memakai pakaian ala Mujahidin, seperti gamis putih-putih selutut, sorban, sepatu, laras panjang, sabuk, ransel militer, dan tidak lupa membawa macam-macam senjata tajam. Selain itu mereka mendirikan pos-pos koordinasi di setiap kota, memiliki media sendiri yaitu buletin Al Wala’ Wal Bara’, Buletin Laskar Jihad, website http://www.laskarjihad.or.id, bahkan radio FM amatir Suara Perjuangan Muslim Maluku (SPMM). Dibandingkan kelompok-kelompok Jihad lainnya, Laskar Jihad tampak lebih sistematis dan kompleks.

Masih di awal april 2000, ratusan pasukan Laskar Jihad berdemo di depan istana negara memprotes kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Mereka berdemo dengan menyandang senjata tajam. Uniknya, pihak aparat keamanan seperti tidak berbuat apa-apa. Dalam kesempatan itu Ja’far Umar beserta beberapa tokoh lainnya masuk ke istana dan dia langsung menghardik Abdurrahman Wahid. Hal ini disebutkan dalam salah satu edisi majalah Sabili. Konon, belum pernah ada satu pun orang di Indonesia yang berani menghardik Abdurrahman Wahid dengan kata-kata “Sinting”, selain Ja’far Umar, kecual di masa-masa akhir seperti Habib Riziq Syihab. Bahkan dalam wawancara dengan Sabili, Ja’far Umar mengatakan bahwa Abdurrahman Wahid itu sudah kafir. Ja’far Umar mengklaim bahwa dia telah berkonsultasi dengan ulama-ulama di Timur Tengah tentang status kafirnya Abdurrahman Wahid.

Diambil dari:

http://kupretist.multiply.com/tag/inside%20salafy